Dukungan Istri Kepada Suami Di Masa Pandemi

12 comments

Dukungan Istri




Bagi wanita yang telah menikah, ingatlah bahwa dukungan istri adalah suport terbesar di masa pandemi.

Saat ini pembahasan paling hangat untuk dibicarakan adalah segala hal tentang COVID-19 dan tentang dampaknya di segala lini kehidupan manusia. Apalagi yang berhubungan dengan dampak ekonomi, kok sepertinya menarik untuk dibicarakan yah.

Saya mengakui bahwa COVID-19 ini bagaikan tsunami perubahan di semua sektor kehidupan. Mulai dari pendidikan, transportasi, ekonomi sampai sosial pun terkena imbasnya. Pendidikan yang seharusnya menggunakan sistem tatap muka mulai berganti jalur menggunakan jalur online untuk pembelajaran. 

Transportasi udara sementara dihentikan tergantung kebijakan masing-masing negara. Saya sedikit banyak mengetahui kebijakan di bidang transportasi karena suami bekerja di bidang tersebut. Pesawat terbang di masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hanya diperbolehkan mengangkut barang atau kargo dan tidak diperbolehkan mengangkut penumpang kecuali pesawat kedinasan ya.

Dukungan Istri Adalah Penyemangat Suami


Secara sosial, kita sebagai makhluk yang senang bersosialisasi sementara tidak diperbolehkan membentuk kerumanan dan diharuskan untuk melakukan social distancing maupun physical distancing. Tidak mudah lho menyesuaikan diri dengan aturan baru tersebut. Apalagi di saat bulan puasa, kita biasanya disibukkan dengan kegiatan buka puasa bersama dengan teman-teman namun pada tahun 2020 sementara kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya harus ditiadakan karena wabah COVID-19.

Berbicara mengenai dampak pandemi dari segi ekonomi, memang banyak yang mengelus dada akibat kebijakan kantor yang harus merumahkan beberapa karyawannya. Salah satunya adalah suami saya dimana sudah dua bulan dirumahkan dari tempatnya bekerja. Menjadi jobless bukan keinginan semua orang pasti ya. Namun siapa yang bisa mengelak dari pandemi ini. Saya pun berusaha memberi motivasi dan support kepada suami bahwa badai pandemi ini akan segera berlalu sambil memikirkan usaha apa yang cocok untuk suami saya lakukan selagi dirumahkan.


Kepala rumah tangga yang jobless tentu membuat emosinya naik turun nih ya. Kita sebagai istri tentu tidak seharusnya ikutan emosi juga karena suami jobless di masa pandemi. Saya pernah membaca postingan status netizen di salah satu media sosial, kalau tidak salah bunyinya seperti ini :

"Seorang istri yang marah-marah menyuruh suaminya yang di-PHK karena pandemi agar keluar rumah untuk bekerja apa saja karena di rumah tidak ada makanan untuk dimakan. Sang istri berharap dengan suami bekerja di luar, sorenya bisa pulang membawa uang untuk membeli makan seisi rumah"

Setelah saya mencerna postingan status tersebut, ada beberapa hal yang saya pertanyakan :
  • Apakah dengan menyuruh suami keluar untuk bekerja, saat itu juga suami akan langsung dapat pekerjaan ?
  • Jika sehari penuh suami tidak bisa mendapat uang untuk membeli makan anggota keluarganya, apakah suami lantas tidak dibiarkan masuk ke dalam rumah ? Kasihan sekali si suami ya batin saya.

Saya paham sekali bagaimana perasaan istri yang tiba-tiba suaminya harus dirumahkan tanpa ada persiapan sama sekali. Kok ya kebetulan si istri juga tidak bekerja dan mereka memiliki anak lebih dari satu. Tentu permasalahan akan semakin kompleks bukan!

Beberapa tips dari saya jika PHK atau dirumahkan sementara terjadi pada suami yang istrinya tidak bekerja :
  1. Harus ada dukungan penuh dari istri kepada suami selama suami jobless.
  2. Beri pengertian kepada anak-anak bahwa ayah mereka sedang tidak bekerja
  3. Istri jangan menuntut berlebihan kepada suami. Beri suami waktu untuk merenung atau beristirahat barang sejenak.
  4. Jika dirasa suami sudah cukup untuk merenung dan istirahat selama beberapa minggu dirumahkan, saatnya mencari alternatif usaha sampingan untuk tetap bertahan hidup selama pandemi masih ada.

Perempuan katanya diciptakan dari tulang rusuk lelaki, maka sudah seharusnya istri menjadi penguat suami di masa-masa kritis selama pandemi. Darimana lagi dukungan utama didapat kalau bukan dukungan istri tercinta dalam menemani masa-masa kritis karena pandemi.

Ada tulisan yang sangat bagus yang ditulis oleh Mbak Jihan, blogger yang sekaligus seorang pengacara. Perempuan merupakan garda terdepan selama COVID-19 ini masih menghantui seluruh masyarakat di Indonesia. Kenapa disebut garda terdepan, karena jumlah tenaga medis perempuan lebih banyak dari tenaga medis lelaki, seperti yang ditulis Mbak Jihan dalam blog beliau. 

Mari semua para perempuan Indonesia, kita dukung suami sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga untuk tetap ikhlas dan semangat menjalani hidup selama pandemi. Kuatkan hati para suami yang mungkin saat ini sedang dirumahkan. Dukungan istri merupakan salah satu faktor suami berusaha untuk tetap menafkahi keluarnya.




maria8181
Selamat datang di blog pribadi saya. Saya ingin berbagi cerita di blog pribadi saya kepada teman-teman netizen yang budiman. Silahkan hubungi saya via email mariatanjung81@gmail.com untuk kerjasama penulisan.
There is no other posts in this category.

12 comments

  1. Semangat terus untuk Perempuan.......

    ReplyDelete
  2. Wabah covid ini berdampak juga sama rumah tangga ya mbk. Tapi memang sebagai istri nggak boleh ikutan marah karena suami nggak bekerja. Mau gimana lagi. Memang kondisinya yang nggak memungkinkan....

    ReplyDelete
  3. Semoga dalam keadaan apapun keluarga kita selalu dilimpahi rasa bersyukur, aamiin.. Semangat!

    ReplyDelete
  4. Sering saya alami posisi sulit ketika suami tidak bekerja dan saya juga tidak bisa bantu suami karena situasi (komputer rusak dan tidak bisa internetan di rumah karena susah sinyal ketika harus pindah ke rumah yang sekarang pada tahun 2014).

    Sedih dan berat banget. Suami yang bingung karena mendadak sulit dapat pekerjaan tidak seperti dulu jadi rapuh. Syukur alhamdulilah, masa berat itu bisa dilalui.

    Pada posisi suami jika harus tidak bisa bekerja butuh dukungan dari istri dan orang dekat dalam keluarganya agar kuat dan beroleh kepercayaan diri untuk lakukan hal terbaik demi atasi masalah.

    Tidak bisa diajak ribut oleh istri karena akan melukai martabatnya sebagai kepala keluarga dan pribadi.

    Tetap semangat untuk keluarga Mbak Maria. Jangan lupa selalu berdoa

    ReplyDelete
  5. Iya sebenarnya tak ada suami yang mau jobless (kecuali sudah kaya gak ngapa2in), maka dituntut istri rasanya gak etis. Keluar rumahpun sekarang bisa terpapar virus. Memberi support dengan lembut selagi meminta pertolongan pada-Nya adalah yang terbaik

    ReplyDelete
  6. COVID-19 ini bagaikan tsunami perubahan di semua sektor kehidupan ... istilahnya cocok. Kalau saya bilangnya memorakporandakan semua tatanan kehidupan. Bahkan pandemi menguji keutuhan rumah tangga.

    ReplyDelete
  7. Pandemi ini memang mengakibatkan banyak keluarga kehilangan mata pencaharian. Dengan dukungan istri, komunikasi dan kerjasama yang baik antara suami dan istri, InsyaAllah bisa mendapat jalan keluar terbaik untuk keluarga. Semangat ya, Mbak Maria dan suami.

    ReplyDelete
  8. Saat pandemi seperti harus saling mendukung sebab semua memang terdampak, daripada ikut menjadi gila lebih baik cari peluang untuk menghadapi situasi seperti ini, lagipula ini merupakan ujian yang hanya sedikit loh, ya kita harus bersabar saja.

    ReplyDelete
  9. Saya belum berumahtangga, tapi membayangkan situasi pandemi ini yg sangat berdampak di seluruh aspek membuat saya semakin sedih. Semoga mba dan suami selalu diberikan kemudahan dan kesehatan ya mba, saya percaya pandemi ini pasti akan segera berakhir, insya Allah. Semangat mba! Salam kenaal, hihi😊

    ReplyDelete
  10. Hallo mbak Maria, salam kenal...
    Semoga suaminya cepat kembali bertugas ya.
    Memang berat ketika mata pencaharian utama menjadi tidak ada sementara kebutuhan sehari-hari (terutama jika sudah mempunyai anak) juga prioritas.
    Setuju dengan tips yang mbak berikan diatas. Jika suami sedang tertimpa masalah, tentunya sebagai istri berkewajiban untuk meringankan beban pikirannya. Jika pikiran sudah jernih, InsyaAllah ide untuk memulai usaha dari rumah, misalnya, akan terpikirkan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email