Friday, November 15, 2019

Review Buku Antologi Puisi : Keranjang Kenang



Judul Buku                 : Keranjang Kenang
Tebal Buku                 : 109 Halaman
Penulis                       : Nilam Prabaningrum dkk (Antologi)
ISBN                           : 978 - 623 - 7117 - 44 - 5
Tahun Terbit              : 2019
Penerbit                     : CV. Mandala Pratama


Buku ini berisi puisi antologi yang diterbitkan melalui proses sayembara. Setelah melalui penilaian dan seleksi maka puisi kiriman kontributor akan diterbitkan ke dalam puisi antologi tersebut. Saya merupakan salah satu dari kontributor buku Keranjang Kenang dimana ini adalah buku antologi pertama saya yang bergenre puisi.

Buku puisi ini biasanya diterbitkan berdasar tema yang diusung oleh penerbit. Kali ini penerbit mengusung tema "Kenang" dimana isi dari puisi harus ada hubungannya dengan kenang entah itu kenangan terhadap suatu peristiwa ataupun seseorang.

Buku ini sangat cocok bagi penulis yang suka dengan genre puisi untuk belajar bagaimana menulis puisi yang baik dan benar. Dengan semakin banyak membaca puisi maka secara otomatis akan memperkaya diksi kita.

Walaupun daftar isinya masih belum disusun secara alfabetis namun hal ini bukan suatu masalah besar. Di halaman paling belakang buku tersusun nama-nama kontributor beserta alamat email mereka.

Bagi pecinta puisi, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Agar diksi dapat terserap sehingga kita dapat menghasilkan tulisan yang semakin tinggi bobotnya.








Thursday, November 14, 2019

Kopi Kekinian





Sebenarnya tujuanku menulis mengenai kopi yang sedang hits di kalangan anak muda ini bukan untuk mempromosikan produk kopi tersebut namun hanya sekedar mengobati rasa penasaranku saja.

Awal mulanya manajer di kantor yang juga saudara pemilik perusahaan bercerita padaku bahwa ayah dari pimpinan di kantor senang sekali membeli kopi Janji Jiwa. Padahal usia ayah dari pimpinanku sudah tidak muda lagi. Tebak usianya berapa ? 72 tahun ! Hehehe. Namun jiwa mudanya seakan tak mau kalah dengan selera anak muda jaman now.

Bayangkan jika seorang lansia saja suka dengan jenis-jenis kopi yang sedang ngetrend saat ini. Tentu ada yang istimewa dengan kopi itu. Baiklah, aku dibuat penasaran dengan kopi kekinian.

Suatu ketika, aku jalan-jalan ke mall bersama suami. Di lantai yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, tampaklah 3 gerai kopi kekinian. Saking penasarannya, kami mampir ke salah satu gerai. 

Astaga ! Ternyata harga beberapa varian kopinya tidak murah. Aku sampai bingung mau pilih yang mana. Suami hanya tersenyum-senyum saja manakala melihat aku maju mundur hendak membeli kopi. Jiwa pelitku meronta-ronta. Bukan tak mampu beli, namun membelanjakan uang senilai sekitar dua puluh lima ribu rupiah untuk segelas kopi kok rasanya sayang sekali bagiku.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang aku putuskan untuk membeli kopi dengan harga termurah. Hehehe. Prinsip ekonomi harus tetap berjalan, batinku kala itu. Minimal aku sudah membelinya. Dan jika aku harus membeli dengan merk kopi yang sama rasanya aku harus berpikir dua kali.

Setelah aku minum, memang aku merasa ada bedanya dengan kopi susu yang biasa aku buat di rumah. Mungkin karena gulanya menggunakan gula aren sehingga rasanya gurih di lidah. Entah apa hanya aku yang merasakannya atau pembeli lain juga merasakan hal yang sama denganku.

Akhirnya, aku sudah berhasil membeli dan merasakan Kopi Wolu, Kopi Janji Jiwa dan Kopi Kenangan yang sedang kekinian itu. Seperti ada kepuasan tersendiri telah mencicipi 3 kopi kekinian yang lagi ngehits di kalangan anak muda.

Buat kalian pecinta kopi, tidak ada salahnya membeli kopi kekinian di luar. Asal jangan sampai buat kantong kita bolong karena keseringan membeli ya!

Saturday, November 9, 2019

Pengalaman Pertama Menonton Midnight




Tanggal 26 Oktober 2019 kemarin saya dan suami berkesempatan menonton film Terminator edisi midnight di XXI Transmart dekat rumah. Awalnya suami mengirimkan pesan whattsapp pada saya yang isinya tawaran apakah saya mau menonton film yang ditayangkan pukul 23.45 waktu Indonesia bagian barat. Saya pikir-pikir selama ini saya belum pernah nonton film bioskop midnight, apa salahnya mencoba. Saya iyakan ajakan suami lalu suami segera memesan tiket online agar dapat memilih tempat duduk ujung kesukaan saya (alasan utamanya agar saya bisa ngemil banyak, hehehe).

Suami saya kebetulan pada Sabtu kemarin mendapat jadwal shift siang. Jadwal shift siang suami dari pukul 13.00 sampai pukul 21.00 WIB. Karena keesokan harinya jadwal libur maka suami berani mengajak saya nonton di bioskop. Saya berpikir sebaiknya saya tidur dulu diantara pukul 19.00 sampai 21.00 agar tidak mengantuk malamnya. Maklum pagi sampai siang saya masih memiliki kewajiban bekerja di kantor. Nyatanya saya tidak bisa tidur pada jam yang direncanakan. Alhasil saya hanya membolak balikkan badan di atas tempat tidur sambil browsing-browsing instagram tak jelas.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Suami saya pulang ke rumah dengan membuka pagar sendiri. Sambil beristirahat barang setengah jam, suamipun mandi. Saya segera mengganti baju dan berdandan untuk pergi nonton midnight. Setelah selesai mandi, suami juga berpakaian dan bersiap-siap. 

Pukul 23.00 kami keluar dari rumah menggunakan sepeda motor. Hawa dingin menyeruak sepanjang perjalanan. Untungnya jarak antara transmart dari rumah tidak begitu jauh sehingga tidak perlu berlama-lama kedinginan di jalan raya. Saya baru pertama kali ini pergi nonton yang dimulai pukul 23.45 sehingga merasakan sedikit excited. 

Awalnya saya berpikir pasti kalau sudah malam begini bioskop tidak lagi ramai. Dugaan salah salah, nyatanya semua bangku di bioskop terisi penuh. Wow! Antusiame penggemas film layar lebar tak terbendung ya meskipun harus menontin tengah malam menjelang dini hari.

Baiklah, adegan demi adegan pun dimulai dalam film Terminator ini. Suami yang penggemar film-film layar lebar sangat menikmati jalannya cerita. Saya sudah mulau gelisah. Sebentar-sebentar saya tengok suami, dia masih asyik menatap layar bioskop. Mata saya sudah tak mampu lagi dipaksakan untuk menonton film.

Akhirnya saya pun tertidur di menit ke-30 film masih berlangsung. Entahlah, rasanya saya sudah tidak tahu apa yang terjadi di sekitar saya. Sayup-sayup terdengar suara-suara semacam tembakan, yang pasti itu ada di adegan film. Menjelang 10 menit film akan berakhir, barulah saya membuka mata. Walau masih mengantuk tapi ada kekhawatiran jika saya tertinggal jika film akan berakhir. Ah, tak mungkin juga rasanya suami meninggalkanku seorang diri, pikirku.

Film akhirnya selesai juga. Suami hanya tertawa kecil melihat saya masih setengah mengantuk berdiri meninggalkan bioskop. Karena penonton banyak, sehingga kami harus mengantri untuk dapat keluar area bioskop. Dengan langkah berat saya berjalan di samping suami menuju parkiran sepeda motor. Sementara waktu sudah menujukkan pukul 02.15 dini hari namun geliat suasana malam belum juga pudar.

Sungguh saya salut dengan orang-orang yang sampai dini hari pun masih membuka netra mereka lebar-lebar untuk menikmati indahnya suasana malam.

Thursday, November 7, 2019

Menulis Tanpa Ide

Komputer
Air Conditioner (AC)
Sandal Jepit
Kunci 
Remote AC
Jam dinding

Aku gusar melihat kantor masih sepi. Belum ada karyawan lain yang datang. Hanya aku seorang. Kubuka pagar dengan kunci gembok dan masuk ke dalam kantor dengan kunci yang berbeda.

Di dalam kantor, aku masih bingung harus berbuat apa karena kulirik jam dinding masih menunjukkan pukul 07.00 waktu Indonesia barat. Aku nyalakan komputer untuk sekedar menyetel lagu-lagu kesukaanku sembari menunggu yang lain datang.

Aku merasa hawa panas menyerang seluruh badanku, segera aku raih remote AC dan kunyalakan 2 buah AC di kantor sampai suhu 16 derajat. Tak berapa lama kesejukan menghampiriku, akupun tenang walau sepi menemani. 

Tiba-tiba rasanya jari kakiku menggeliat sesak di dalam sepatuku. Tanpa pikir panjang kuraih sandal jepit yang biasa kugunakan ketika mengambil air wudhu. Ah, lega rasanya kata jemari kakiku begitu sandal menempel di kaki.

Tepat pukul 7.50, rekan-rekan kerjaku berdatangan dan akupun tak gusar lagi.

Review Buku Antologi Puisi : Keranjang Kenang

Judul Buku                 : Keranjang Kenang Tebal Buku                 : 109 Halaman Penulis                       : Nilam Prabaning...