Assalamu'alaikum pembaca blog saya yang berbahagia. Bagaimana kabar kalian semuanya? Saya harap kalian dalam keadaan sehat dan bersuka cita ya walau di masa sulit sekalipun.

Saat ini pembahasan paling hangat untuk dibicarakan adalah segala hal tentang COVID-19 dan tentang dampaknya di segala lini kehidupan manusia. Apalagi yang berhubungan dengan dampak ekonomi, kok sepertinya menarik untuk dibicarakan yah.

Saya mengakui bahwa COVID-19 ini bagaikan tsunami perubahan di semua sektor kehidupan. Mulai dari pendidikan, transportasi, ekonomi sampai sosial pun terkena imbasnya. Pendidikan yang seharusnya menggunakan sistem tatap muka mulai berganti jalur menggunakan jalur online untuk pembelajaran. 

Transportasi udara sementara dihentikan tergantung kebijakan masing-masing negara. Saya sedikit banyak mengetahui kebijakan di bidang transportasi karena suami bekerja di bidang tersebut. Pesawat terbang di masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hanya diperbolehkan mengangkut barang atau kargo dan tidak diperbolehkan mengangkut penumpang kecuali pesawat kedinasan ya.

Secara sosial, kita sebagai makhluk yang senang bersosialisasi sementara tidak diperbolehkan membentuk kerumanan dan diharuskan untuk melakukan social distancing maupun physical distancing. Tidak mudah lho menyesuaikan diri dengan aturan baru tersebut. Apalagi di saat bulan puasa, kita biasanya disibukkan dengan kegiatan buka puasa bersama dengan teman-teman namun pada tahun 2020 sementara kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya harus ditiadakan karena wabah COVID-19.

Berbicara mengenai dampak pandemi dari segi ekonomi, memang banyak yang mengelus dada akibat kebijakan kantor yang harus merumahkan beberapa karyawannya. Salah satunya adalah suami saya dimana sudah dua bulan dirumahkan dari tempatnya bekerja. Menjadi jobless bukan keinginan semua orang pasti ya. Namun siapa yang bisa mengelak dari pandemi ini. Saya pun berusaha memberi motivasi dan support kepada suami bahwa badai pandemi ini akan segera berlalu sambil memikirkan usaha apa yang cocok untuk suami saya lakukan selagi dirumahkan.

Kepala rumah tangga yang jobless tentu membuat emosinya naik turun nih ya. Kita sebagai istri tentu tidak seharusnya ikutan emosi juga karena suami jobless di masa pandemi. Saya pernah membaca postingan status netizen di salah satu media sosial, kalau tidak salah bunyinya seperti ini :

"Seorang istri yang marah-marah menyuruh suaminya yang di-PHK karena pandemi agar keluar rumah untuk bekerja apa saja karena di rumah tidak ada makanan untuk dimakan. Sang istri berharap dengan suami bekerja di luar, sorenya bisa pulang membawa uang untuk membeli makan seisi rumah"

Setelah saya mencerna postingan status tersebut, ada beberapa hal yang saya pertanyakan :
  • Apakah dengan menyuruh suami keluar untuk bekerja, saat itu juga suami akan langsung dapat pekerjaan ?
  • Jika sehari penuh suami tidak bisa mendapat uang untuk membeli makan anggota keluarganya, apakah suami lantas tidak dibiarkan masuk ke dalam rumah ? Kasihan sekali si suami ya batin saya.

Saya paham sekali bagaimana perasaan istri yang tiba-tiba suaminya harus dirumahkan tanpa ada persiapan sama sekali. Kok ya kebetulan si istri juga tidak bekerja dan mereka memiliki anak lebih dari satu. Tentu permasalahan akan semakin kompleks bukan!

Beberapa tips dari saya jika PHK atau dirumahkan sementara terjadi pada suami yang istrinya tidak bekerja :
  1. Harus ada dukungan penuh dari istri kepada suami selama suami jobless.
  2. Beri pengertian kepada anak-anak bahwa ayah mereka sedang tidak bekerja
  3. Istri jangan menuntut berlebihan kepada suami. Beri suami waktu untuk merenung atau beristirahat barang sejenak.
  4. Jika dirasa suami sudah cukup untuk merenung dan istirahat selama beberapa minggu dirumahkan, saatnya mencari alternatif usaha sampingan untuk tetap bertahan hidup selama pandemi masih ada.

Perempuan katanya diciptakan dari tulang rusuk lelaki, maka sudah seharusnya istri menjadi penguat suami di masa-masa kritis selama pandemi. 

Ada tulisan yang sangat bagus yang ditulis oleh Mbak Jihan, blogger yang sekaligus seorang pengacara. Perempuan merupakan garda terdepan selama COVID-19 ini masih menghantui seluruh masyarakat di Indonesia. Kenapa disebut garda terdepan, karena jumlah tenaga medis perempuan lebih banyak dari tenaga medis lelaki, seperti yanh ditulis Mbak Jihan dalam blog beliau. 

Mari semua para perempuan Indonesia, kita dukung suami sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga untuk tetap ikhlas dan semangat menjalani hidup selama pandemi. Kuatkan hati para suami yang mungkin saat ini sedang dirumahkan.