Aku Yang Tak Punya Kampung Halaman




Pada sebagian orang, mudik dijadikan sebagai suatu kegiatan atau lebih tepatnya tradisi selama bertahun-tahun. Belum afdhol rasanya kalau seseorang yang tinggal di ibukota begitu lebaran tidak mudik.

Tapi apalah dayaku yang tidak punya kampung halaman. Aku tuh lahir di kota kecil di Kalimantan Selatan. Usia 3 tahun pindah ke Kalimantan Timur sampai lulus SMA. Selepas SMA aku melanjutkan kuliah di kota Pahlawan sampai sekarang di usia mendekati empat puluh tahun. Almarhum Bapak memang berencana pensiun di kota Pahlawan dan niat tersebut terlaksana.

Bapak yang memiliki darah Jawa Timur tentu ingin menghabiskan sisa hidupnya di kampung halaman. Qadarullah, Bapak dimakamkan di kota Pahlawan juga. Sedangkan Ibu terlahir di sebuah kota kecil di Jawa Tengah dan semenjak kedua orang tua Ibu berpulang ke Rahmatullah, ibu sudah jarang mudik ke kampung halamannya.

Sampai saat ini aku kadang bingung jika ditanya, "mudik kemana?" Karena aku sendiri tidak punya kampung halaman. Setelah sholat Ied, kami biasanya pergi ke makam Bapak dan setelah itu akan berkunjung ke rumah paklik Bapak yang tinggalnya satu kota dengan kami. Setelah itu ya kami hanya duduk-duduk di rumah sambil menunggu jika ada tamu atau justru kami yang pergi mengunjungi kerabat.

Aku sendiri sebenarnya senang menonton televisi yang memberitakan mengenai arus mudik di Indonesia. Rasanya ikut merasakan kebahagiaan orang-orang yang pulang kampung menemui keluarga mereka setelah berbulan-bulan merantau ke pulau seberang untuk mencari nafkah. Aku pernah delapan bulan berada di kota orang dan begitu aku berkesempatan mudil ke kota Pahlawan, hati ini rasanya sueeneeng poll. Lebay kali ya tapi mungkin ini yang dirasakan perantau-perantau lainnya jika berada di kota yang bukan domisilinya.

Jadi walau aku tidak ikut tradisi mudik seperti halnya orang kebanyakan namun aku senang melihat mudiknya para perantau. Ohya, aku juga memiliki kedua kakak yang beberapa tahun sekali mudik lho. Dan mereka pasti mudiknya ke rumah kami donk ya. Hehehe.

Tahun ini kedua kakakku pastinya tidak akan bisa mudik karena pandemi covid-19 dan akupun maklum akan hal tersebut. Aku sih berharap saudara-saudara setanah air bisa sejenak menahan keinginan untuk mudik mereka demi terhindarnya dari infeksi virus covid-19 yang menghantui kita semua. 

Aku yakin Allah pasti punya rencana indah dibalik ini semua. Janganlah karena rasa rindu yang amat sangat dengan sanak saudara membuat keselamatan dan kesehatan kita terancam.

No comments:

Powered by Blogger.