Gimana rasanya jika kita dibatasi dalam beraktivitas ? Tentu yang ada hati ini akan memberontak dan tidak ingin hal itu terjadi. Begitu juga halnya dengan diriku yang tidak senang jika harus terkungkung di dalam rumah tanpa melakukan aktivitas apapun.

Bulan Maret 2020 merupakan bulan yang benar-benar menurutku bulan keprihatinan. Betapa tidak, aku dan suami yang biasanya menghabiskan waktu berdua keluar hanya sekadar jalan-jalan atau menikmati kuliner kaki lima, pada bulan tersebut tidak bisa sebebas seperti sebelumnya. Semua itu dikarenakan pandemi Corona yang sampai sekarang pun masih belum berakhir. Sedih rasanya.

Awal Maret 2020 aku dan suami masih menonton film di salah satu bioskop dekat rumah, namun seminggu kemudian suami mendapat kabar bahwa seluruh bioskop di kota kami sementara tidak beroperasi dahulu sampai waktu tak tidak dapat ditentukan. Tentu hal ini sedikit membuatku kecewa karena menonton film merupakan salah satu sarana bagiku dan suami melepaskan kepenatan setelah seminggu bekerja. 




Selain menonton film, kami biasanya juga seminggu sekali meluangkan waktu berjalan-jalan ke Mall yang ada toko bukunya untuk melihat apakah ada buku favorit kami terbitan baru. Entah mengapa, mall bagi kami merupakan sarana hiburan yang paling efektif melepas penat karena walau jarang belanja berlebihan sepulang dari mall namun ada saja barang yang kami beli selepas dari mall.

Sempat uring-uringan di rumah dengan adanya kebijakan baru yang ditetapkan oleh pemerintah namun kemudian aku tersadar bahwa tidak satupun terjadi di muka bumi ini melainkan karena rencana Tuhan. Aku segera tersadar atau lebih tepatnya menyadarkan diri ini bahwa aku harus menerima dengan ikhlas apa yang sedang terjadi di bumi Nusantara terkait pandemi COVID 19 ini.

Akhirnya aku mulai merubah mindsetku selama ini bahwa refreshing itu harus di luar rumah. Di dalam rumah pun kita bisa tetap merasa enjoy, bahagia dan menikmati kamar tidur yang sejuk oleh udara di Air Conditioner. Bersyukur aku masih memiliki rumah untuk pulang kembali setelah bekerja seharian. Bayangkan di luar sana masih banyak yang tidur hanya beralaskan kardus. Bukan lebay, tapi memang untuk menggambarkan bahwa masih banyak di luar sana orang yang hidupnya serba kekurangan. 

Selama wabah Corona ini masih terjadi, seharusnya memang beberapa kantor menerapkan WFH atau Work From Home namun hal itu tidak bisa aku lakukan karena kantorku bergerak di bidang pelayanan sehingga tidak memungkinkan diberlakukan WFH. Bagiku hal tersebut bukan suatu masalah. Masih diberi pekerjaan saja aku sudah bersyukur karena beberapa pegawai di luar sana sudah ada yang dirumahkan.

Aku berusaha mencari cara bagaimana aku tetap bahagia di saat pandemi ini masih terjadi. Salah satunya adalah sepulang kerja aku selalu langsung mandi dan keramas dengan menggunakan Shampoo Emeron. Sekarang setiap mandi dua kali sehari aku selalu keramas untuk memastikan tidak ada bakteri maupun virus yang tertinggal di badan. 




Di antara varian Shampoo Emeron yang paling aku suka adalah Emeron Hijab Nutritive Shampoo. Kenapa aku paling favorit dengan shampoo itu karena penampilanku yang menggunakan hijab sehingga rambut sempat mengalami kerontokan beberapa kali akibat sering tertutup oleh kain hijab. Akhirnya aku menemukan shampoo yang pas untuk rambutku dan bisa dipakai setiap hari.   

Akhir kata walau tak ke mall untuk waktu yang belum bisa ditentukan namun bagiku tak masalah karena aku masih bisa menikmati nyamannya rebahan di kasur kamar. Eitss... bukan berarti aku termasuk golongan kaum rebahan lho, hehehe. Intinya kita tetap happy walau untuk sementara tak bisa jalan-jalan ke mall atau tempat hiburan lainnya. Bagiku pulang kerja dan langsung mandi sambil keramas menggunakan Emeron Hijab Nutritive Shampoo sudah merupakan kebahagiaan tersendiri di masa Physical Distancing ini.

Kalau sudah mandi dan keramas rasanya badan jadi segar dan mau melakukan apapun setelah mandi terasa ringan dan semangat. Selama tidak pergi ke mall, di hari Sabtu dan Minggu aku sekarang lebih punya banyak waktu untuk bersih-bersih rumah. Kalau sebelumnya aku beberapa kali memanggil layanan online untuk membersihkan rumah, namun justru ada hikmahnya sudah hampir dua bulan ini aku di rumah saja. Hikmah pertama yaitu aku menjadi lebih hemat dalam mengatur pengeluaran bulanan.

Hikmah kedua adalah aku punya lebih banyak waktu untuk membaca dan mengasah kemampuan menulisku yang sudah mulai kendor. Entah kenapa aku merasa lama tak menulis dan setiap tulisan yang aku hasilkan seperti tidak ada ruhnya. #eh apaan sih.

Dan hikmah ketiga adalah aku lebih bisa membangun kedekatan emosional dengan ibu yang sudah berusia 74 tahun. Selama ini aku disibukkan oleh pekerjaan dan jika pulang ke rumah badan rasanya sudah lelah serta malas untuk berbicara. Di masa-masa physical distancing ini aku bisa banyak mendengarkan cerita dari Ibu. Biasanya orang yang sudah jompo ingin selalu didengar oleh putra putrinya.

Aku bersyukur ada banyak hikmah di balik semua kegundahan yang aku alami di awal-awal pandemi ini berlangsung. Sekarang aku menikmati kegiatanku selama di rumah dan tidak bisa ke mall untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Yang lebih penting, bersyukur masih diberi kesehatan dan banyak berdoa adalah kunci utama menghadapi pandemi ini.

Ini pengalamanku dengan Emeron, bagaimana dengan kalian ? 

"Kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Jadi jangan merasa dunia berakhir manakala ada sesuatu hal tak menyenangkan yang tak pernah kita duga sebelumnya terjadi pada kita. Ambil hikmahnya dan teruskan hidupmu sesuai skenario yang sudah Tuhan beri untukmu"


#DirumahAja
#DengarkanHatimu