Mungkin Aku Berbeda Namun Aku Bahagia



Siapa sih yang tidak ingin bahagia dengan hidupnya ? Bohonglah pasti kalau ada orang yang bilang "aku tak ingin bahagia" atau "aku tak butuh kebahagiaan". Pasti semua orang ingin bahagia. Bahagianya individu satu dengan individu lainnya pasti berbeda-beda. Ada yang bahagia kalau dapat uang banyak, tapi di seberang sana ada yang bahagia cukup dengan makan es krim kesukaannya. Dan ada pula yang bahagia karena berkumpul dengan keluarga besar sehingga faktor uang menjadi nomor sekian dalam hidupnya. Unik bukan bahagia yang di rasakan oleh masing-masing individu !

Nah, sekarang aku ingin membahas mengenai diriku yang tergolong biasa-biasa saja di antara teman-temanku sejak Sekolah Dasar sampai aku menamatkan kuliahku. Kalau istilah kerennya, aku tidak populer diantara teman seangkatan maupun kakak dan adik kelas. Ada lho, teman kuliah perempuan yang sangat populer sehingga dia dikenal oleh kakak kelas sampai empat semester diatasnya. Mungkin karena kecantikan dan sering membuat sedikit kehebohan disaat OSPEK sehingga banyak kakak kelas yang mengenalnya.

Bagiku semua individu berhak punya cara sendiri untuk mengapresiasikan dirinya. Kalau aku termasuk individu yang pendiam namun juga tak berprestasi, hehehe. Seharusnya kan seseorang yang pendiam biasanya mampu meraih prestasi di sekolah maupun kampusnya. Namun hal itu tidak terjadi denganku. Mungkin aku berbeda dengan teman-temanku.

Berbicara mengenai karir dan hubungan dengan masyarakat luas, aku tak memiliki banyak peristiwa berarti. Semuanya terbilang datar. Bahkan untuk karir diriku termasuk lambat dalam pencapaian karir, tidak seperti teman-teman masa kecil atau teman kuliah yang rata-rata sudah memiliki posisi mapan di sebuah perusahaan atau bank ternama. Bahkan beberapa teman kuliah berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil, dimana pada zamannya di tahun 2000an menjadi PNS merupakan suatu prestasi sendiri bagi kebanyakan orang.

Keberuntungan memang tidak berpihak padaku. Setelah mengikuti test CPNS beberapa kali aku selalu dinyatakan gagal alias tidak lolos sehingga impian menjadi abdi negara pupus sudah. Akhirnya aku bekerja di perusahaan swasta yang mungkin tidak sebonafide teman-teman kecilku. Awalnya aku sempat berpikir kenapa keberuntungan tak pernah berpihak padaku, namun setelah mengalami perjalanan panjang akhirnya aku sadar bahwa mindset seperti itu harus dihilangkan.

Aku harus mencintai diriku sendiri apapun itu, walau bekerja di perusahaan yang menurut orang lain bukan perusahaan besar namun aku harus menganggap bahwa itu perusahaan besar dan terbaik dimana aku sedang bekerja di dalamnya. Aku bangga dengan karir yang sudah aku bangun selama sembilan tahun. Aku tidak perlu membuktikan sesuatu kepada orang lain karena hal itu akan sia-sia belaka. 

Yang aku butuhkan hanyalah rasa tenang dan nyaman dalam melanjutkan hidup ini. Banyak hal lain yang harus aku raih selain hanya mengejar status "bekerja di perusahaan bergengsi". 

Aku yang tak pandai bersosialisasi dan cenderung introvert juga tak memiliki hubungan pertemanan dan koneksi yang banyak. Entah mengapa aku sering merasa kurang nyaman berada di kumpulan orang-orang. Jika dipaksakan maka aku bisa mengalami rasa tertekan. Aku pun berdamai dengan kondisi seperti itu dan tidak memaksakan untuk bergaul dengan orang-orang yang mungkin tidak satu visi denganku. Mungkin terkesan egois tapi lebih baik daripada suatu saat aku bisa menyakiti hati orang lain. Bagiku persahabatan bukan tentang harus bertemu setiap hari. Bersyukurnya aku semenjak berdamai dengan karakterku ini, aku memiliki sahabat yang walau jauh di mata namun tetap dekat di hati.

Setelah banyak belajar dari Satu Persen aku akhirnya berintrospeksi bahwa hidup ini bukan apa yang orang lain mau akan tetapi apa yang kita mau. Jangan pernah terbawa pengaruh akan pandangan negatif orang lain karena bukan mereka yang akan menjalani hidup melainkan kita sendiri yang akan berjuang dalam segala macam peristiwa yang terjadi pada hidup kita.

Dulu aku pernah menjadi individu yang terlalu Overthinking, segala hal dipikirkan sampai mendalam sehingga aku tak punya waktu memikirkan diri sendiri beserta kenyamanannya. Kalau sudah begitu akhirnya yang ada insomnia melanda diriku dan aku menjadi tidak bahagia. Lalu aku banyak merenung kembali dan mendengarkan beberapa motivasi dan juga ceramah agama di media sosial. Dari situ aku mengambil kesimpulan bahwa merencanakan sesuatu dalam hidup itu perlu namun bukan sesuatu hal yang mutlak sehingga kita menuntut kesempurnaan atas rencana yang kita buat.

Pada akhirnya, kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tak memikirkan pendapat dan pandangan orang lain terhadap kita. Karena mereka tak mengenal kita sejak dalam kandungan. Bahagiakan diri kita semaksimal mungkin, jangan ada rasa penyesalan di kemudian hari karena terlalu memikirkan penilaian orang lain.


#SatuPersenBlogCompetition


Credit Foto : Google

No comments:

Powered by Blogger.