Harapannya kalau bisa karir selalu berada di puncak, tapi Tuhan punya rencana lain yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Begitulah jalan hidup Pak Narto yang dulunya memiliki karir cemerlang di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi.

Jalan hidup itu ibarat roda sepeda yang berputar, kadang di atas tapi bisa juga di bawah. Roda memang benda mati yang tak bisa protes mau berada dimana. Berbeda dengan manusia yang bisa berteriak, mengeluh, berontak manakala roda hidupnya berada di bawah. Dan manusia juga akan berusaha membalikkan roda agar berada di atas.

Pak Narto yang dulunya kepala cabang salah satu perusahan multinasional terbesar tidak sanggup menghadapi badai PHK besar-besaran di kantornya. Akhirnya berimbas pada kehidupan ekonomi keluarganya.

Ketidaksiapan dalam menghadapi roda yang menggelinding ke bawah, membuat istri dan anak Pak Narto linglung seketika. Perselisihan demi perselisihan terjadi. Tak ada ruang bagi Pak Narto untuk berpikir, yang ada hanya tuntutan-tuntutan tanpa batas.

Pelajaran berharga untuk kita semua. Bahwa kita harus siap berada dalam posisi hidup apa saja, apakah itu kesenangan maupun kesempitan hidup. Jangan terlena dan terbuai dengan pangkat, kedudukan maupun jabatan yang tinggi. Semua milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika Tuhan berkehendak maka semua yang bersinar akan dicabut dalam kehidupan kita. 

Lihatlah kebawah jika kita sedang berada diatas, jangan semakin mendongak karena akan semakin mematikan empati kita.

Berharap akan karir cemerlang, pendidikan tinggi boleh-boleh saja tapi tetap kita harus ingat bahwa yang memegang simpul harapan kita adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Credit foto : satuharapan.com