Kamera Jadul Versus Kamera Milenial




Sekarang zaman sudah berubah. Waktu saya masih berada di bangku SMP dan SMA jika ingin mengabadikan moment bersejarah seperti foto keluarga, perpisahan SMP maupun SMA biasanya difoto dengan menggunakan tustel atau biasa disebut kamera. Tapi bukan kamera digital lho. Belakangan aku tahu kamera itu dinamakan kamera analog. Kamera ini biasanya diisi dengan roll film, isinya tergantung kebutuhan ada yang isi 24 film dan ada yang isi 36 film. Isi film dibeli terpisah dengan kamera. Setelah isi roll film penuh maka dapat dilakukan cuci cetak di studio foto. Biasanya kita mendapat klise dari studio foto tersebut untuk menggandakan di kemudian hari bila perlu. Kelemahan dari klise ini jika hilang atau terbakar maka kita tidak bisa menggandakan lagi. Berbeda dengan sekarang dimana foto bisa disimpan di dalam CD atau flashdisk sehingga tidak mudah hilang atau rusak. Kalaupun rusak kecil kemungkinan kecuali falshdisk terjangkiti virus.

Saya masih ingat pada tahun sekitar 1995, ibu saya membeli kamera second dari teman kerja beliau. Harganya tujuh puluh lima ribu rupiah. Harga yang tidak bisa dibilang murah di tahun itu. Saya beserta kedua kakak senangnya minta ampun akhirnya punya kamera. Biasanya kami selalu numpang foto dengan kamera milik teman.

Sekitar tahun 2010 saya pribadi baru memberi kamera digital karena pada tahun itu kakak laki-laki saya mau menikah. Sebelum tahun itu saya biasa melakukan swafoto atau bahasa kerennya selfie dengan menggunakan kamera handphone walaupun tipe handphone antara tahun 2005 sampai 2010 belum secanggih sekarang dimana kameranya masih belum jernih.

Generasi sekarang sangat dipermudah dengan adanya kecanggihan teknologi. Saya masih ingat sekali jika waktunya kelulusan sekolah, kami semua siswa harus berbondong-bondong mencari studio foto dalam rangka melakukan sesi pemotretan untuk ijazah. Sekarang kita mengambil foto sendiripun di rumah dengan bantuan handphone canggih sudah bisa. Dengan teknik edit yang semakin lihai, foto untuk ijazah sekolah pun tidak perlu dilakukan jauh dari rumah. Cukup di rumah saja hasilnya tidak kalah dengan yang di studio foto.

Studio foto sekarang sudah beralih fungsi, selain dapat mengambil foto rapor, foto keluarga, foto kelulusan dan foto-foto yang berhubungan kegiatan formil tapi sudah bergeser ke tema-tema yang lebih khusus. Kenapa saya menyebut tema yang lebih khusus karena tema ini pada tahun 1990an belum pernah ada, seperti tema maternity (kehamilan), tema new born (bayi yang baru lahir), tema pre wedding, tema ibu melahirkan dan berbagai tema lainnya.

Masyarakat sekarang dituntut memiliki tingkat invovasi yang tinggi. Saya sangat kagum dengan orang-orang yang mampu mencari celah bisnis. Kamera sekarang juga dilengkapi dengan aksesoris pendukungnya seperti tripod, monopod, filter, kabel release dan lain sebagainya. Begitu pula dengan kamera yang tertanam di handphone. Anak-anak muda jaman sekarang lebih menyukai merk-merk handphone tertentu karena dianggap memiliki kamera yang sangat jernih sehingga jika mereka melakukan selfie maka hasilnya sesuai ekspektasi anak muda jaman sekarang.

Akhir kata, kita boleh menyukai dan menggunakan kecanggihan teknologi tapi jangan juga kita terjebak di dalamnya yang mengakibatkan kita lupa akan makna penggunaan teknologi tersebut.

Credit Foto : Google

Post a Comment

2 Comments

  1. Menarik tulisannya, idenya Sederhana namun kemasannya luar biasa

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Pak. Tulisan njenengan juga bagus. Sangat bagus malah.

    ReplyDelete