Dengan adanya perkembangan media sosial sekarang sangat memudahkan kita menyimpan kenangan yang telah kita lalui di galeri foto yang akan kota upload ke salah satu media sosial contohnya instgram. Instagram sebagai salah satu media sosial yang lebih banyak menampilkan visualisasi gambar atau foto yang di upload oleh si pemilik akun. Saya pribadi lebih menyukai dan lebih sering membuka instagram ketimbang media sosial yang lain karena lebih menarik.

Sebagai contoh saya yang penyuka postingan mengenai kuliner. Pada saat saya memberi like pada beberapa akun selegram kuliner, maka tidak perlu menunggu lama di pencarian saya akan keluar beberapa foto-foto dari selebgram kuliner. Begitu hebatnya teknologi mengatur semua ini.

Oke, balik lagi ke foto-foto kenangan. Kalau lagi punya kekasih hati pasti inginnya mengabadikan moment kebersamaan. Sekali cekrek, upload, cekrek, upload begitu seterusnya. Selain foto dengan kekasih hati, moment lain misalnya lagi jalan-jalan ke pantai, makan di restoran mahal atau ke luar negeri sekalipun pasti tidak ingin dilewatkan dengan berfoto sebagai kenang-kenangan.

Tapi kemudian apakah kita pernah berpikir dengan unggahan foto di media sosial akan memberikan berbagai persepsi pada sebagian orang entah itu persepsi positif atau negatif. Pada beberapa orang menyikapinya dengan respon yang berbeda-beda. Ada yang woles alias cuek namun ada yang mungkin berkata seperti ini, "Ah, ngapain mikirin orang lain, kita liburan ke luar negeri juga pake uang sendiri, ga minta dibayarin orang lain". Atau mungkin ada kalimat yang bernada seperti menyindir, "Kamunya aja yang jomblo permanen makanya sirik tiap gue upload foto sama pacar gue".

Tetapi sadar ga kita bahwa foto-foto liburan ke berbagai kota yang kita upload di media sosial jika terlalu sering akan menimbulkan rasa minder dan iri pada sebagian orang. Misal si A memang orang yang suka sekali travelling. Minimal dalam setahun A travelling ke tiga lokasi berbeda. Dalam kesempatan liburan si A selalu upload foto-foto liburan ke Lombok, Bali, dan Raja Ampat tak lupa foto makan malam di restoran mewah di lokasinya berlibur. Alhasil kawannya yang bernama B selalu melihat di akun media sosialnya karena A dan B saling follow. Si B yang tadinya intens bergaul dengan si A mulai menjauh karena B minder. Jangankan liburan keluar kota, ke mall saja B jarang sekali karena keterbatasan biaya. Hal-hal seperti ini yang seharusnya bisa kita jaga apalagi dalam hubungan pertemanan.

Atau yang lebih ekstrem lagi, si C memiliki koleksi jam tangan mewah. Setiap kali baru saja membeli jam tangan, si C selalu pamer di media sosial dengan cara mengupload jam barunya. Si D yang selalu memperhatikan melalui media sosial timbul keinginan untuk memiliki jam tangan si C. Pada suatu ketika si C lengah, lupa meletakkan jam tangannya sehingga D memiliki kesempatan mencuri jam tangan mewah milik C. Mungkin analogi yang saya beri terdengar konyol tapi bisa saja terjadi walau satu banding seribu.

Sehingga ada baiknya bila mulai sekarang kita memilah mana foto yang bisa kita upload ke media sosial atau yang seharusnya menjadi koleksi foto pribadi saja. Ini bukan perintah namun hanya gambaran saja untuk direnungkan.


Credit Foto : Google