Aku pun tertegun, melihat mereka para driver menunggu pesanan mereka. Tingkah mereka pun bermacam-macam. Ada yang sambil mengobrol dengan rekan sesama pengemudi ojek online. Beberapa driver menunggu sambil melamun, tidak jarang dari mereka menunggu orderan sambil bermain handphone.

Yang membuat saya kaget adalah saya melihat dua dari pengemudi ojek online tersebut minum minuman ringan yang disediakan oleh restoran tapi tidak menggunakan gelas melainkan menggunakan wadah sambal yang terbuat dari plastik. Di restoran itu memang disediakan minum sepuasnya bagi para pembeli. Pembeli hanya diwajibkan membayar gelasnya saja. Setelah itu mereka bebas minum sebanyak yang diinginkan.

Kondisi berbeda yang terjadi para pengemudi ojek online yang mendapat pesanan di restoran tersebut. Saya perhatikan mereka bebas all you can drink namun tidak mendapat fasilitas gelas sebagaimana pengunjung resto.

Melihat mereka minum, saya kemudian merenung dan seperti tersadar bahwa saya dan suami masih sangat beruntung dapat makan dan minum sepuasnya di restoran tersebut. Kami tidak perlu susah-susah mengantri seperti mereka.

Sepulang dari restoran fast food itu, saya mengajak suami untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar. Bahwa masih banyak saudara kita yang tidak dapat makan sekenyang kita. Bisa jadi masih banyak saudara kita yang tidak dapat makan setiap hari karena kesulitan ekonomi yang menghimpit.

Suami saya pun sepakat dengan keinginan saya. Kamipun mulai saat itu mulai mengurangi kegiatan kuliner kami. Sebisa mungkin kami memilih makan di rumah. Karena selain menyehatkan juga pastinya murah. Atau jika sangat ingin berkuliner, maka kami lebih memilih untuk take away atau dibawa pulang. Agar saya tidak menjadi sedih jika melihat perjuangan para ojek online untuk mendapatkan nafkah untuk keluarga mereka di rumah.