Kalau mendengar judul yang saya buat, awalnya merupakan ketidaksengajaan karena teman yang mengatakan hal tersebut. Begitu dia, sebut saja namanya Franky mengatakan bahwa harga dirinya tak semurah nasi bungkus, langsung saya meminta izin padanya untuk menjadikan sebagai sebuah tulisan. Lumayanlah, untuk setoran tulisan di ODOP, pikir saya.

Di dekat kantor saya ada sebuah masjid yang jika setiap Sholat Jumat selalu membagi-bagikan nasi bungkus. Mungkin kebiasaan membagikan nasi bungkus adalah hal umum yang tersebar di berbagai kota. Tujuannya adalah meramaikan masjid agar banyak jamaah yang melakukan sholat jumat.

Biasanya yang rutin melaksanakan sholat jumat adalah Franky dan Pak Seto, manajer kami di kantor. Kami bertiga selalu standby di kantor sedangkan sisanya teknisi yang pekerjaannya lebih banyak di luar kantor.

Beberapa bulan sebelumnya, Franky dan Pak Seto sering mendapat nasi bungkus sepulang dari menunaikan ibadah sholat jumat. Biasanya Pak Seto selalu memberikan pada saya nasi bungkus bagiannya karena beliau sudah dibawakan bekal oleh istri. Tapi sudah satu bulan terakhir, keduanya tidak pernah mendapat nasi bungkus lagi. Penyebabnya adalah posisi pembagian nasi bungkus yang berubah dari pintu samping menjadi pintu depan keluar masuk jamaah masjid.

Karena Pak Seto dan Franky tidak pernah keluar masjid melalui pintu depan sehingga mereka tak pernah kebagian nasi bungkus lagi. Nah, hari ini saya iseng bertanya pada Franky mana nasi bungkusnya. Dengan spontan Franky menjawab bahwa nasi bungkus kalau mau ambil di depan pintu keluar dan Franky malas jika keluar masjid lewat pintu depan hanya demi sebungkus nasi. Dan ia pun berceletuk, "harga diriku tak semurah nasi bungkus". Dan seketika itu pula tawapun meledak diantara kami bertiga. Indahnya hari Jumat.


Credit Foto : tokopedia.com