Setiap tahun aku selalu mendapat kabar dari ibuku kalau tetangga kami si fulan akan menunaikan ibadah haji. Selalu ada saja minimal satu orang yang pada bulan Dzulhijjah berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Bukan hanya itu saja, setiap tahun di komplek perumahanku sering juga terdengar bahwa si fulan pada bulan Rajab atau di bulan-bulan lainnya akan menunaikan ibadah umroh untuk yang kesekian kali. 
Sungguh aku sangat senang mendengar banyak tetanggaku yang telah menunaikan ibadah umroh maupun ibadah haji.

Lalu pernah terbersit di pikiranku, "Aku kapan ya bisa berangkat umroh ?". Atau dalam hati aku bertanya, "Kira-kira aku bisa ndak ya pergi haji, apa aku mampu ?" Kemudian akupun mulai berdoa memohon kepada Allah Yang Maha Pemberi Rezeki agar aku dibukakan pintu rezeki yang seluas-luasnya agar memiliki kesempatan pergi ke tanah suci Makkah minimal untuk menunaikan ibadah umroh.

Lagi-lagi aku merenung, bahwa doa tanpa diiringi dengan ikhtiar tentu hasilnya tidak bisa maksimal. Allah Yang Maha Kuasa bisa saja memberikan kesempatan pada hamba-Nya untuk pergi ke tanah suci Makkah, akan tetapi Allah SWT pasti akan sangat senang apabila hamba-Nya juga mau berusaha dengan menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung.

Mulailah aku menabung dengan niat tabunganku ini untuk berangkat umroh. Dan akupun semakin memperkencang intensitas doaku di setiap sholat lima waktuku. Tidak lupa doa yang utama kupanjatkan di sepertiga malam terakhir pada saat aku melaksanakan sholat tahajud. "Ya Allah, beri hambamu yang dhoif ini jalan agar dapat mengunjungi Baitullah. Mungkin secara perhitungan manusia, hamba mustahil pergi ke Baitullah karena hamba hanya menyisihkan sedikit dari penghasilan hamba, namun hamba yakin perhitungan-Mu tidak pernah meleset, Ya Allah". Aamiin aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Demikian doa yang selalu kupanjatkan ke hadirat Allah SWT. Tak lupa aku sisihkan juga rezekiku untuk bersedekah agar Allah SWT semakin menyayangiku dan memberiku jalan menuju Baitullah.

Credit Foto : Google