Bagai Tertusuk Duri, Refleksi Dari Dua Orang Perempuan

Credit Foto : Google


Naira meletakkan album foto kembali ke habitatnya yaitu diantara tumpukan buku dan album lainnya di lemari kecil yang terletak di ruang tamu. Pandangannya menerawang ke luar kaca jendela ruang tamunya. Teringat akan hari bahagianya sepuluh tahun silam dimana mas Aji menjabat erat tangan kak Wisnu, kakak lelaki yang juga menjadi wali pada akad nikah Naira dan Aji. Semua begitu cepat berlalu. Rasanya baru saja dua tahun Naira melewati masa-masa sebagai pasangan suami istri bersama mas Aji, suaminya.

"Inikah takdirku, ya Tuhan... sepuluh tahun berlalu tanpa kehadiran sang buah hati. Segala cara sudah dilakukan untuk mendapatkan momongan. Walau aku sadar belum segala cara, karena aku dan mas Aji tak sanggup jika harus melakukan program bayi tabung," hati kecil Naira sedang berkata-kata.

Untunglah suami Naira bukan sosok yang selalu menuntut akan hadirnya buah hati. Di samping menyadari kelemahannya, suami Naira juga tak ingin membuat Naira stress berkepanjangan.

"Yang lebih lama menikah dari kita lebih lama, Yank... kamu tahu kan teman kerjaku Pak Dito sudah usia lima puluh tahun juga belum punya anak. Toh hidupnya adem ayem saja", hibur mas Aji kepada istri tercinta.

"Yang penting kita saling menyayangi dan berjanji sehidup semati. Aku ga bisa hidup kalau ga ada kamu, Yank. Perempuan lain apa ngerti mauku apa. Sudahlah gak usah dengerin omongan mama sama keluarga yang lain. Kita kan ga minta uang ke mereka," lagi-lagi mas Aji memberikan penjelasan berkali-kali pada Naira.

Pernikahan adalah moment sakral yang dinantikan oleh pasangan di belahan bumi manapun. Sebagai manusia normal, siapa yang tidak ingin menikah. Yang masih jomblo harus segera mencari pasangan lho ya jika ingin mewujudkan pernikahan idamannya. Jangan hanya ingin menikah saja tapi tanpa disertai doa kepada Yang Maha Memberi. Ikhtiar sah-sah saja namun jangan dipaksakan jika dana tak mencukupi.

"Dinar, kamu udah telat mens belum bulan ini?" Tanya mertua dengan suara yang tergesa-gesa di ujung telepon, seolah-oleh tidak sabaran menunggu kabar baik dari menantunya itu.

"Baru aja hari ini Dinar mens Bu...", ungkap Dinar dengan suara serak. Seolah jawabannya merupakan pukulan telak untuk sang mertua.

"Ohya sudah mungkin belum rejekinya," jawab sang mertua sambil mematikan teleponnya.

Wanita mana yang tak sakit hatinya jika setiap bulan di telepon hanya untuk ditanya sudah terlambat haid atau belum. Seolah harga diri wanita hanya terlihat dari terlambat haid atau tidak. Sungguh picik sekali pemikiran orang tua yang seperti itu.

Novel ini bercerita tentang dua orang wanita yang tak saling kenal, Naira dan Dinar. Keduanya sama-sama sedang menantikan datangnya buah hati setelah bertahun-tahun menikah. Hanya bedanya Naira tinggal sekota dengan ibu mertua sedangkan Dinar tinggal berlainan kota dengan sang ibu mertua.

Disinilah nanti akan muncul banyak kejadian yang dibumbui dengan drama menyayat hati akan sakit san kecewa manakala orangtua dalam hal ini mertua sedikit ikut campur atau menyindir kepada menantu perempuannya yang tak kunjung hamil.

Novel ini memang fiksi dengan mengangkat cerita di seputar perjalanan hidup dua pasang suami istri yang sangat mendambakan datangnya buah hati, ditambah adanya konflik serta intrik dengan keluarga besar, utamanya dari keluarga pihak suami.

Namun aku yakin di luar sana banyak Naira dan Dinar lain yang mengalami gejolak batin karena belum datangnya buah hati. Rasa tak berguna, anti sosial dengan teman maupun tetanngga bahkan enggan bertemu dengan keluarga besar mungkin pernah didera oleh sebagian wanita yang belum pernah melihat dua garis biru pada testpack mereka.


Post a Comment

6 Comments

  1. Replies
    1. Makasih mba Riana. MBa Riana lebih keren hehehe

      Delete
  2. Semoga nanti bukunya dibaca sama mertua-mertua di seluruh penjuru negeri. Setidaknya itu akaan mengurangi jumlah Naira dan Dinar yang harus sakit hati

    ReplyDelete