Beradaptasi Tidaklah Mudah





Di kantor, tugas saya bisa dibilang multi tasking alias serabutan. Salah satunya mewawancarai calon pegawai di kantor. Maklum saja, kantor saya termasuk usaha kecil menengah sehingga beberapa pekerjaan dapat dirangkap dan dikerjakan oleh satu orang. Sebelum wawancara dilakukan pastinya saya membuka lowongan pekerjaan terlebih dahulu. Karena sekarang era digital, maka iklan lowongan kerja saya taruh di akun penyedia lowongan di media sosial. Sebagian besar saya memasang iklan tersebut di instagram. Selain biaya pemasangan lowongan murah, feedbacknya juga besar dari para follower akun tersebut.

Setelah beberapa jam postingan iklan lowongan kerja kantor saya di upload tanpa menunggu lama respon berdatangan. Biasanya keesokan harinya berkas lamaran kerja sudah menumpuk di meja saya. Karena di kantor saya mengharuskan lamaran kerja dikirim dalam bentuk hardcopy, maka para pelamar mengirim langsung surat lamaran kerja plus daftar riwayat hidup mereka ke alamat kantor kami. Kenapa diharuskan menggunakan hard copy ? Untuk mengetahui tingkat keseriusan calon pelamar terhadap perusahaan yang akan dilamar. Jika melalui email maka bisa saja calon pelamar kerja tinggal mengirim email setelah melakukan banyak penyimpanan berkas lamaran kerja di draft email mereka.

Setelah menerima banyak berkas lamaran dari para pelamar, mulailah saya membaca satu persatu data diri mereka. Saya kelompokkan data mereka berdasarkan usia, relevansi pengalaman kerja dan domisili. Karena pimpinan menginstruksikan sebaiknya karyawan berdomisili di kota yang sama. Untuk masalah pengalaman kerja, jika tidak ada yang relevan dengan kantor kami, maka saya akan mencari calon karyawan yang usianya di bawah 26 tahun untuk kami pekerjakan di lapangan karena kami memang membutuhkan teknisi yang kuat secara fisik. Pekerjaan teknisi 80% berada di lapangan sehingga membutuhkan stamina yang prima.

Setelah pengklasifikasian calon karyawan, tibalah saatnya saya menghubungi mereka untuk melakukan interview. Interview biasanya saya mulai pada pukul 9 pagi waktu Indonesia barat. Per hari saya batasi maksimal 3 orang saja yang diwawancara agar saya bisa melakukan interview tanpa perlu berkejar-kejaran dengan waktu. Karena saya pernah mengalami sendiri ketika menghadiri interview kerja, yang datang dalam satu hari bisa lebih dari 10 orang pelamar kerja. Hal ini tentu saja mengakibatkan kurang efektifnya proses tanya jawab antara pemberi kerja dan pelamar kerja.

Dalam wawancara kerja, saya selalu mengawali dengan meminta pelamar kerja menceritakan sedikit mengenai kegiatannya saat ini, kenapa berhenti bekerja dari perusahaan sebelumnya dan tentunya yang paling penting berapa penghasilan yang ia terima di kantor lamanya. Beberapa pelamar rata-rata memiliki pengalaman kerja antara 6 bulan sampai 1 tahun. Rata-rata alasan mereka berhenti bekerja karena keinginan sendiri yang merasa tidak cocok lagi dengan lingkungan kerjanya. Bagi saya ini alasan yang cukup memprihatinkan dimana kita tidak mungkin memilih suasana kerja yang kita inginkan. Mau dimanapun kita bekerja pasti akan menemukan ketidak cocokan dengan rekan kerja. Cara yang paling ampuh untuk mengatasi rasa tidak betah di tempat kerja adalah berusaha menyesuaikan dengan lingkungan kerja. Selama kantor masih manusiawi dalam pemberian gaji serta sistem kerja yang sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, maka seyogyanya karyawan berusaha untuk menerima kondisi kerjanya. 

Kita tidak bisa menyuruh rekan kerja untuk selalu selaras dengan keinginan kita. Asal rekan kerja tidak melakukan perbuatan yang menjatuhkan kita seperti fitnah, penipuan, pemerasan dan lain sebagainya maka marilah kita berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. Jangan sampai karena emosi sesaat membuat kita kehilangan kesempatan kerja padahal di luar sana banyak sekali pengangguran yang ingin menempati posisi kerja kita. Yang ada hanyalah penyesalan apabila terlanjur resign kemudian merenung dan menyadari bahwa keputusan yang kita ambil adalah keliru.

Saya sering sekali menerima surat lamaran kerja walaupun di kantor sedang tidak membuka lowongan. Selain itu beberapa teman kadang bertanya apakah ada lowongan di tempat saya padahal kantor termasuk usaha kecil menengah. Bayangkan di usaha kecil seperti kantor saya saja masih ada pertanyaan "apakah ada lowongan ?", lalu bagaimana dengan perusahaan yang lebih besar lagi ? Bisa saja pertanyaan yang sama lebih banyak lagi diutarakan.

Jadi selagi ada peluang kerja yang ditawarkan untuk kita janganlah disia-siakan. 

Credit foto : google

Post a Comment

14 Comments

  1. Miris ya mba, byk yg susah cari pekerjaan, tp byk juga yg menyia-nyiakan pekerjaannya..tetap semangat bekerja dan menulis ya mba 🌹🌹

    ReplyDelete
  2. Setuju, mengatur diri sendri untuk menyesuaikan kondisi lebih mudah dari pada mengatur orng atau lingkungan

    ReplyDelete
  3. Terkadang, rumput tetangga terlihat lebih hijau dan menarik mbak, jadi membuat kita seakan bosan dengan rumput sendiri, jadi tidak terpelihara dengan baik jg hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bener. rumput tetangga lebih hijau. hehehe

      Delete
  4. Bekerja di mana pun punya suka dan duka yang berbeda ya, mbak. Asalkan enjoy - niat cari ridho Allah (nyari rizki yang halal) insya Allah kita senang..semoga..

    ReplyDelete
  5. Paragraf terakhirnya cukup mendalam. Sayangnya saya termasuk orang yang kekeuh bahwa mencari kerja pun tak bisa asal, dan orang berhenti kerja pun ga semuanya karena alasan labil pendirian.

    Beberapa teman saya berhenti kerja karena suburnya budaya asusila dan gosip tidak sehat di kantornya. Itu serem sih. Disamping kita tetap harus membuat dapur mengepul, seringkali tak bisa menghindar dari bahaya mengintai di tempat kerja.

    ReplyDelete
  6. iya benar mas. banyak godaan juga di tempat kerja. teman saya pernah cerita jika di kantor kakak iparnya ada yang namanya "budaya" selingkuh. Nau'zubillah ya. Semoga kita dihindarkan dari hal-hal negatif dan semoga tempat kita mencari nafkah mendapat keberkahan Tuhan. Aamiin

    ReplyDelete