Sedihnya Tertusuk Cinta

9 comments
Cerpen fiksi




Ingin sekali malam ini menjadi malam yang bersahabat denganku. Aku bersanding dengan terangnya purnama yang berada tepat di atas meja dimana meja itu di pesan oleh mas Bram. Kubiarkan anak rambut tergerai bebas disapu kencangnya angin malam. Suasana romantis di restoran langganan bersama calon tulang rusuk begitu mempesona sehingga tak sadarkan diri ini dengan apa yang telah di ucapkan oleh lelaki calon imam.

Tertusuk Cinta


Aku tercekat dengan perkataan mas Bram, seketika tanganku bergetar. Secangkir kopi yang kupegang nampak menumpahkan isinya ke meja kaca restoran dan menyentuh kulit. Panas... tapi tak sepanas hatiku yang mendengar ungkapan hati mas Bram. Sekiranya rembulan berniat menganugerahkan sinarnya untukku namun tak jadi.

"Aku ingin kita tidak melanjutkan pertunangan ini Ta," seru mas Bram tanpa sedetikpun memandang mata Lita. Kamipun saling terdiam. "Boleh mas bilang salah Lita dimana ?" Tanyaku terbata-bata berusaha memberi kesan stabil seolah tak ada yang terjadi di antara kami. "Ya ga ada apa-apa sih Ta, aku bosan saja menjalani hubungan ini, aku lagi ingin sendiri aja", sahut mas Bram kemudian.

Tak ada yang terjadi di restoran itu. Lidahku kelu, hanya dapat menyuguhkan satu pertanyaan pada mas Bram. Kamipun berpisah di ujung gerbang restoran. Pulang tanpa meninggalkan pesan satu sama lain. Rasa lelahku yang sekiranya dapat terbayar dengan pertemuan ini, justru menambah beban semakin berat di pundak ini.

[Mas Bram, apa kabar ? Sudah seminggu kita ndak kontak. Apa memang kita benar-benar sudah putus ?] Sebait kalimat aku kirim melalui pesan whattsapp. Satu jam berlalu, dua jam tak terasa lalu di jam ketiga, bunyi gawaiku terdengar. [Aku baik, Ta. Iya Ta, sejak kita ketemu di resto kapan hari bukankah sudah kubilang aku ingin kita putus].

Tak kubalas lagi chat mas Bram di whattsapp. Sejenak ku merasa hangat di pipi. Ternyata bulir-bulir air mataku telah menetes dengan derasnya tanpa suara sesegukan. Nyata adanya bahwa hubunganku dengan mas Bram telah berakhir. Lalu apa yang harus aku lakukan oh Tuhan ? Berjalan sendiri tanpa mas Bram sungguh berat bagiku, setelah dua kali kami merayakan Idul Adha bersama dalam komitmen sebagai sepasang tunangan.

"Aduh, kalau jalan hati-hati donk Pak. Bapak ga lihat apa ada orang di depan Bapak," gerutuku sambil membersihkan hem putihku yang terkena tumpahan kopinya. Walau tak mungkin menjadi putih kembali namun setidaknya sudah tidak coklat seperti awal terkena tumpahan kopi mocchacino laki-laki itu.

"Oh kamu toh mas," seruku seketika begitu tahu laki-laki yang menyenggolku barusan adalah mantan tunangan yang mengaku sudah bosan padaku. Mataku terbelalak melihat siapa yang berada di samping mas Bram. "Lila !" Seketika tenggorokanku menjadi kering. Ternyata sepupuku sendiri sekarang yang mengisi kekosongan hati mas Bram.

"Jadi mas, kamu ternyata bukannya bosan denganku ya," tukasku seketika. "Ya Ta, sekarang aku sudah berkomitmen dengan Lila dan bulan depan kami akan menikah," Mas Bram bukannya takut dengan kehadiranku justru menjawab dengan lantang.

Baru lima bulan aku putus dengan mas Bram, berani-beraninya dia menggandeng Lila sepupuku dan langsung diajak naik pelaminan. Selama ini aku dibohongi oleh sepupuku sendiri. Setahun yang lalu aku memperkenalkan Lila pada mas Bram, lalu tujuh bulan kemudian mas Bram menginginkan putus denganku. Menyesal tak dapat ku ulang kembali kisahku. Namun apalah daya, semua tlah berlalu dan kisahku tak dapat diulang.

Note : kisah ini hanyalah fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat maka hanyalah suatu kebetulan.



maria8181
Selamat datang di blog pribadi saya. Jika ingin bekerjasama untuk sponsored post, silahkan hubungi saya via email mariatanjung81@gmail.com atau direct message via Instagram @mariatanjungmenulis

9 comments

Post a Comment

Follow by Email