Teman Yang Tak Seimbang (Bagian 3)



[Wi, besok Senin ada pertemuan grup kita dengan pihak pengembang. Kamu jadi datang kan ? Kalau iya, aku juga datang], tanyaku ke Tiwi melalui pesan whattsapp.

[Ya mbak, aku datang tapi aku sama Yuli. Dia ngajak bareng baik mobil kebetulan searah kalau ke tempatku], jawab Tiwi tanpa aku menunggu lama. Yuli merupakan teman kami juga, sama-sama korban penipuan perumahan. 

Keesokan harinya aku tiba di salah satu rumah panitia grup korban penipuan dengan menggunakan ojek online. Di dalam rumah aku melihat Tiwi bersama Yuli. Aku melambaikan tangan ke arah Tiwi begitupun sebaliknya. Namun rupanya Tiwi tetap asyik mengobrol dengan Yuli. Ya sudahlah, tidak penting bagiku. Yang penting bagaimana uang DP rumahku bisa kembali.

Karena rapat akan segera dimulai, akupun duduk lesehan dekat pintu mengingat anggota yang datang lumayan banyak. Tidak mungkin aku duduk di dekat Tiwi yang lumayan jauh.

"Wi, Jumat ini ada sidang terdakwa bos pengembang. Kamu datang ga rencananya?", tanyaku pada Tiwi ketika rapat sudah selesai dan peserta sudah mulai meninggalkan ruangan.

"Hei mbak Yuli, tumben nih datang. Biasanya jarang datang ya ke rapat atau geruduk kantor pemasaran", reflek aku menegur mbak Yuli yang juga datang menghampiriku.

"Iya nih, mbak. Aku kan masih punya batita di rumah jadi repot kalau harus ninggalin rumah", jawab mbak Yuli.

"Gimana Wi , Jumat jadi datang kan?" tanyaku kembali pada Tiwi.

"Eh mbak Yuli jadi jemput aku ya Jumat besok?", Tiwi malah bertanya pada mbak Yuli tanpa menghiraukanku dan malah sibuk sendiri dengan gawainya

Aku yang hanya bisa bengong dengan kelakuan Tiwi hanya bisa diam. Mbak Yuli pun terdiam mungkin tidak enak karena dari tadi pertanyaanku belum dijawab Tiwi.

"Ya udah mbak, aku pulang dulu ya sama mbak Yuli", tiba-tiba Tiwi memegang lenganku sembari jalan keluar pekarangan si empunya rumah.

Mbak Yuli yang kaget dengan perlakuan Tiwi hanya bisa berlari kecil di belakang Tiwi sambil menganggukkan kepala padaku.

Entah apa yang terjadi pada Tiwi tapi tidak terlalu mengganggu pikiranku. Bergegas aku pesan ojek online agar dapat kembali ke kantor menyelesaikan beberapa pekerjaan. Penipuan perumahan yang terjadi padaku membuat sering ijin dari kantor. Sebenarnya sungkan tapi demi kembalinya uang hasil jerih payahku dan suami.

Tiga hari setelah pertemuan grup, aku dan Tiwi tidak ada kontak. Aku sibuk bekerja, dia sibuk dengan dagangan onlinenya. Tiba hari Jumat persidangan terdakwa bos pengembang, akupun mengirim pesan ke Tiwi.

[Wi, aku kayaknya ga bisa hadir besok. Soalnya aku harus meeting dengan client], begitu bunyi chatku.

Lama tak ada balasan dari Tiwi, baru Jumat pagi dia membalas pesan whattsappku.

[Ya udah terserah mbak aja, lagian besok aku udah janjian sama mbak Yuli juga kok], begitu balasan Tiwi di seberang sana.

Seperti ada yang beda dari jawaban Tiwi, namun aku mencoba biasa saja. Toh kami hanya teman sependeritaan karena jadi korban penipuan. Lain tidak !

Untungnya informasi mengenai hasil sidang aku dapatkan dari grup Line anggota korban penipuan. Jadi aku selalu bisa update perkembangan. Pada suatu ketika aku iseng mencoba bertanya kepada Tiwi mengenai beberapa kali persidangan dimana aku tidak dapat hadir.

[Hai Wi, apa kabar ? Kamu sering juga ya datang ke sidang bos penipu itu. Ada kabar apa nih di persidangan ?], chatku antara berharap di balas atau tidak.

Berhari-hari chatku tidak dibalasnya. Akupun sudah lupa. Hingga pada suatu hari...

[Beep... beep], dering nada whattsapp berbunyi di saat sedang mengerjakan laporan. Di luar dugaan, Tiwi menghubungi aku.

[Mbak Dian, aku lagi punya stok cemilan banyak nih. Ayo donk dibeli, daganganku lagi sepi. Beli yaa...], ternyata chatku beberapa hari lalu tidak dibalas, malah dia menawarkan dagangannya.

Ada rasa kesal di hati. Tiwi ternyata hanya menghubungiku jika ada butuhnya saja. Tapi aku masih tetap berpikiran positif padanya.

[Oke deh, Wi.. aku beli ya kue-kuenya. Tapi aku ambil hari Minggu ya pas suamiku libur jadi ada yang antar], jawabku seketika. 


Bersambung.


Note : kisah ini hanyalah fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat maka hanyalah suatu kebetulan.

Sumber foto : Google

Post a Comment

11 Comments