Teman Yang Tak Seimbang (Bagian 2)



[Mbak Dian, mau gak ikut geruduk kantor marketing perumahan R. Ini aku dapat kabar hari Senin mereka pada mau kesana. Yuk kesana, sekalian kita ketemuan dan kopdar] pesan whattsapp Tiwi menyadarkanku kalau aku sudah main games selama satu jam.

Tidak pakai lama segera aku balas, [Hayuk aja, mbak... aku ijin kantor dulu ya. Senin pagi aku wa lagi yak].

Senin, jam 9 pagi kamipun janjian bertemu di kantor pemasaran yang telah menipu kami dengan janji-janji segera membangun rumah yang sampai 2 tahun belum jadi juga.

"Mbak Dian ya... aku Tiwi mbak yang biasa chattingan sama mbak", tiba-tiba seorang wanita hitam manis menghampiriku. Lesung pipinya menambah manis wajahnya.

"Hei, hallo... hhmm akhirnya kita ketemu juga ya walau dalam keadaan tidak menyenangkan gini", jawabku sambil mengajaknya bersalaman. Lalu kamipun bergabung dengan sesama korban penipuan lainnya untuk menuntut hak kami.

"Mbak, ini kan kita udah selesai geruduk kantor pemasarannya, ntar 2 minggu lagi mau ada pertemuan lagi dengan pengurus Keluarga Besar Korban Penipuan Perumahan R. Kita bareng lagi ya mbak", ucap Tiwi menawarkan agar kami bisa hadir bersama lagi.

"Ya pastilah aku hadir mbak. Dua minggu lagi kita kontak-kontakan yah", ujarku sambil pamitan pulang. Aku yang akan kembali bekerja dan Tiwi kembali pulang ke rumahnya karena dia masih memiliki batita yang berusia 2 tahun.

Setelah pertemuan pertama kami, hubungan pertemananku dengan Tiwi semakin akrab. Kami sering saling mengunjungi ke rumah masing-masing. Bahkan anak-anak kami sering main bersama jika ada waktu luang. Aku yang memiliki dua orang putri dimana usianya tidak jauh terpaut dengan anak Tiwi.

[Mbak, aku setengah jam lagi nyampe lokasi ya. Tunggu aku ya mbak, jadi kita masuk ruangan bareng-bareng], begitu nada suara Tiwi di seberang melalui telepon selularnya.

[Oke say, aku tunggu dirimu ya], sahutku kemudian. Sesampainya di lokasi rapat para korban penipuan, akupun segera menghampiri Tiwi.

"Sorry say, aku telat datang. Maklum harus ngurus anak-anak marketing dulu", ucapku sambil menggamit tangan Tiwi untuk segera masuk ke ruang rapat.

Begitulah pertemananku dengan Tiwi yang sudah berjalan selama 3 bulan. Di kemudian hari aku mengetahui bahwa usia Tiwi terpaut jauh denganku. Aku yang berusia 34 tahun ternyata masih ada yang lebih muda 10 tahun dariku. Benar, usia Tiwi masih 24 tahun. Segera saja aku ijin memanggil dengan sebutan Tiwi saja. Dan Tiwi tak keberatan dengan panggilan nama saja. Justru dia senang akhirnya memiliki kakak perempuan.

"Mbak, aku ada jual kue-kue kering lho. Aku ngambil dari orang lain sih. Sama kalau mbak Dian nyari sandal, gamis, sepatu kets aku juga jual. Ntar aku upload di WA story deh", ucap Tiwi suatu hari saat kami sedang rapat para korban penipuan rumah.

"Oya? Oke deh, ntar aku beli kuenya ya buat ibuku. Beliau paling suka ngemil kalau malam", jawabku kemudian.

"Mbak, aku mau curhat nih. Masak suamiku gak jujur sama aku lagi kalau dia suka minjemin uang ke teman kerjanya. Aku dianggap apa mbak selama ini ?" isak tangis Tiwi saat aku ke rumahnya mengambil kue pesananku.

[Mbak, aku lagi sakit dan harus di ophname karena kena asam lambung akut. Tadi pagi aku pingsan mbak, terus diantar sana tetangga ke rumah sakit], begitu bunyi whattsapp Tiwi di jam istirahat kerjaku.

[Walah, kok bisa Wi... Ya udah nanti pulang kerja aku ke rumah sakit ya. Wa kan nama ruangan ophnamemu ya Wi], balasku.

Aku dan Tiwi pun menjalani pertemanan via whattsapp. Tiwi yang selalu mendominasi di setiap percakapan dengan cerita kehidupannya membuat diriku menjadi pendengar yang setia.

Bersambung.

Note : kisah ini hanyalah fiksi belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat maka hanyalah suatu kebetulan.

Sumber foto : Google

Post a Comment

8 Comments