Pada kesempatan menulis tantangan ODOP kali ini, kami semua diminta menuliskan mengenai cerita rakyat Indonesia yang telah di modifikasi dan di improvisasi sesuai keinginan penulis dengan tidak jauh berbeda dari cerita aslinya. Sebelumnya saya akan menyadur dari internet mengenai cerita rakyat yang ingin saya improvisasi ke dalam blog saya. Berikut cerita rakyat Kelingking Sakti yang berasal dari Jambi.

Cerita Rakyat Kelingking Sakti

Alkisah, ada sepasang suami istri di Jambi yang miskin dan belum memiliki momongan. Meskipun mereka sudah puluhan tahun membina rumah tangga, namun mereka tak kunjung memiliki seorang anak. Segala daya upaya sudah dilakukan, tetapi hasilnya selalu nihil.
Hingga akhirnya, sang suami memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengabulkan permintaanya untuk memiliki seorang anak laki-laki. Walaupun sebesar kelingking, mereka rela asalkan memiliki anak.
Beberapa bulan kemudian, sang istri pun dikabarkan mengandung seorang anak. Sesuai doa yang diminta oleh sang suami, anaknya pun lahir hanya sebesar jari kelingking saja. Meskipun ukuran badannya kecil, suami dan istri tersebut tetap bersyukur dan menyayangi anaknya.
Pada suatu hari, desa Jambi didatangi oleh hantu pemakan manusia, nenek Gergasi. Seluruh warga pun ketakutan, sehingga tidak ada satupun yang berani keluar rumah. Demi menyelamatkan warga, raja dari desa Jambi pun mengajak rakyatnya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Akan tetapi Kelingking menolak untuk mengungsi, ia lebih memilih tinggal di desa untuk mengusir nenek Gergasi. Sayangnya, niat tersebut diragukan oleh para warga karena badannya yang teramat kecil.
Namun Kelingking tidak mempedulikannya. Berkat keberanian dan kecerdasan Kelingking, ia mampu membunuh setan tersebut dengan cara memasukkannya ke jurang. Oleh karenanya, Raja Desa Jambi menghadiahkan Kelingking berupa pangkat Panglima Perang.
Salah satu kisah dari kumpulan cerita rakyat nusantara terpopuler di atas berasal dari Jambi, Riau. Cerita rakyat yang singkat dan menarik tersebut memiliki pesan moral untuk buah hati Bunda. Salah satu pesan moralnya adalah selalu meminta pertolongan kepada All

======================================================================

Di sebuah desa yang terpencil tinggalah sepasang suami istri yang sudah berusia lima puluh tahun ke atas. Namanya Pak Wawan dan istrinya yang bernama Bu Wati. Keduanya hidup bahagia hanya berdua saja. Kenapa hanya berdua saja, karena Pak Wawan dan Ibu Wati belum diberikan momongan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Kenapa ya Pak, sampai saya ini Ibu belum juga hamil?", apa salah Ibu. 
Di suatu sore mereka terlibat dalam perbincangan santai yang mengarah sampai pembahasan mengenai kehamilan.

"Ya sudah Bu... mau bagaimana lagi, mungkin Gusti Allah belum sreg melihat kita punya anak." hibur Pak Budi sambil mengelus pundak istrinya.

Pada suatu malam, terdengar isak Pak Wawan dalam sujudnya. Ternyata Pak Wawan sedang menunaikan ibadah sholat Tahajud. Dalam sholatnya Pak Wawan rupanya sangat memohon kepada Allah SWT agar dikarunia momongan. "Ya Allah, hamba mohon agar hamba dan istri dikaruniai momongan. Tidak masalah jika anak kami kelak diberi badan yang kurus dan kecil asal kami punya keturunan," isak pak Wawan kepada Khaliqnya.

Hari berganti hari, tanpa diduga Bu Wati yang sudah berusia lima puluh ke atas mengandung. Awalnya Pak Wawan tidak percaya dengan kabar kehamilan sang istri. Dia sudah putus asa karena mereka sudah berusia lima puluh tahunan. Namun ternyata doa Pak Wawan dikabulkan Allah SWT.

Sembilan bulan berlalu, tibalah Ibu Wati melahirkan buah hati yang telah dinanti-nanti. Ternyata ada yang aneh dari bayi mereka. Berat si bayi hanya satu kilogram dan tingginya pun hanya 40 cm. Bidan melakukan diagnosa kepada si jabang bayi dan bidan berkesimpulan karena sewaktu mengandung, si bayi tidak pernah menerima asupan gizi yang baik dari sang ibu. Bidan pun menyadari akan hal itu karena Bu Wati tinggal di desa yang sangat terpencil sehingga informasi mengenai gizi apa saja yang harus dikonsumsi selama kehamilan sangatlah minim. Ibu Wati saja harus menempuh satu hari perjalanan untuk dapat sampai ke Puskesmas Kecamatan.

Alangkah terpukulnya kedua pasangan tersebut mendapati anak mereka dalam kondisi yang memprihatinkan. Dalam hati, Pak Wawan menyesal telah berdoa demikian kepada Sang Khaliq. Namun, nasi telah menjadi bubur dan doa yang telah diucapkan lelaki tua itu tak dapat ditarik kembali. Pak Wawan bertekad tidak akan menceritakan doanya kepada sang istri. Biarlah ini menjadi rahasianya seumur hidup.

Dua puluh tahun berlalu sejak peristiwa kelahiran buah hati Pak Wawan dan Bu Wati. Bayi tersebut telah beranjak dewasa. Pak Wawan memberi nama bayinya dengan nama Tegar, sebuah nama yang mungkin jarang digunakan oleh orang pada umumnya. Pak Wawan berharap Tegar dapat menerima kekurangan fisiknya dan akan tegar apabila di cemooh banyak orang. 

Dalam perjalanan hidupnya Tegar memang tidak memiliki tubuh sempurna. Tinggi badannya di bawah rata-rata manusia pada umumnya. Tubuhnya juga sangat kerempeng. Namun Tegar memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tegar tidak sekolah, dia membantu bapaknya berkebun di kebun milik juragan. Setiap bulan mereka mendapatkan upah yang cukup untuk dapat makan bertiga bersama ibunya.

Walau memiliki tubuh yang pendek dan kerdil, Tegar ternyata mampu bela diri, tentu bela diri sederhana karena di desanya sangat jauh dari teknologi. Dia sangat kuat dalam menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer. Tegar sangat baik kepada tetangga, dia dikenal sebagai penolong di desanya. Sewaktu kecil memang banyak yang mencemoohnya namun ketika beranjak dewasa dan banyak tetangga yang sudah ditolongnya, cemoohan itu semakin lama semakin berkurang bahkan hilang. Karena kedermawanannya, Tegar merupakan sosok yang paling dicari di desanya.

Sudah beberapa bulan ini kondisi desa berubah menjadi suasana yang mencekam. Hal ini dikarenakan datangnya seorang rentenir yang bernama Pak Kusman beserta preman-preman yang dimilikinya. Ada beberapa warga desa yang meminjam uang kepada Pak Kusman dan tidak mampu membayar sehingga warga tersebut beberapa di antaranya di datangi oleh para preman. 

Alkisah ada seorang tetangga Tegar yang bernama Pak Herman, dia meminjam uang sejumlah besar kepada Pak Kusman untuk menutup kegagalan hasil panennya. Karena tidak punya uang untuk membayar hutang, Pak Herman dihajar habis-habisan oleh preman bayaran Pak Kusman.

"Aduh Pak, sudah jangan pinjam rentenir lagi, kalau begini siapa yang akan menolong Bapak," isak tangis Bu Herman menggema sampai ke luar rumah mereka. Pak Herman yang masih kesakitan bercucuran darah segar setelah di hajar oleh komplotan preman tersebut hanya bisa meringis kesakitan.

Akhirnya kabar kelompok preman menyerang Pak Herman terdengar sampai ke keluarga Pak Wawan termasuk Tegar juga mendengar kabar itu. Warga kampung semua pada ketakutan karena hampir semua warga meminjam uang kepada rentenir dengan bunga yang mencekik.

"Pak, besok dengar-dengar preman mau mendatangi rumah Pak Herman lagi karena dia tidak bisa melunasi hutang dan rumahnya juga mau di sita. Aku mau menolong pak, " ungkap Tegar selepas mereka membajak sawah milik majikan.
"Kamu tidak usah ikut-ikut, Gar. Bahaya, mereka jumlahnya banyak sedangkan kamu ? Badanmu kecil begitu pasti mereka hanya menertawakanmu saja, " Pak Wawan menjawab keinginan anak semata wayangnya dengan sinis. Tegar hanya diam saja, dia tidak mau menanggapi larangan bapaknya lagi. Daripada mereke bertengkar seperti yang sudah-sudah.

Keesokan harinya, Tegar dan bapaknya pergi ke sawah seperti biasa. Tak nampak tanda-tanda Tegar akan pergi ke rumah Pak Herman untuk menolongnya dari kekurang ajaran para preman. Namun pada saat matahari berada tepat di atas kepala, Tegar pamit pulang dengan alasan pusing.

"Pak, aku pulang duluan ya... badanku tidak enak," kata Tegar sambil berpura-pura memasang wajah sakit dan lemas. 
"Ya sudah, sana pulang daripada kami pingsan," seru sang ayah sambil meneguk air putih.

Tegar pun kembali dari sawah tapi kali ini tujuannya tidak ke rumahnya, melainkan ke rumah Pak Herman untuk menyelidiki apa benar akan ada sekelompok preman suruhan rentenir yang akan menyita rumah Pak Herman. Ternyata benar, Tegar melihat para preman itu sedang mengeluarkan dengan paksa isi dari rumah Pak Herman. Dan Bu Herman terduduk di lantai sambil menangis memegang kaki salah satu preman berteriak memohon agar jangan mengusir mereka.

"Pak, bagaimana ini nanti malam mau tidur di mana kita," isak Bu Herman sesugukan.  
"Ya sudah Bu, kita hanya bisa pasrah. Bapak tidak punya uang buat bayar hutang ke Pak Kusman," jawab suaminya dengan pelan. 

"Hei kalian, beraninya jangan cuma sama orang tua, sini kalau berani lawan saya, kata Tegar tiba-tiba muncul di depan rumah Pak Herman. Dengan badannya yang kerdil, Tegar berdiri di depan para preman. Tak gentar dia berdiri melindungi Pak Herman dan istri.

"Hahahahahaha... kamu siapa hei anak cebol," kata salah satu preman dengan tertawa yang sinis. 
"Kamu kira kita takut sama kamu, sini kau... di tiup angin saja kau sudah tak berdaya," ledek preman lainnya.

Tiba-tiba tiga orang preman menyerang Tegar secara bersamaan, dengan secepat kilat Tegar menangkis serangan dari preman-preman itu. Dalam waktu kurang dari setengah jam, Tegar mampu melumpuhkan sekawanan preman yang berjumlah 6 orang tersebut. Pak Herman seolah tak percaya dengan apa yang barusan di lihatnya. Dengan tubuhnya yang di bawah rata-rata Tegar mampu menghajar para preman sampai mereka lari terbirit-birit.

"Bilang sama juraganmu, kalau berani datang ke desa kami pakai cara kekerasan, aku ga segan-segan menghajar kalian lagi. Semua orang yang punya hutang pada Pak Kusman pasti dibayar tapi tolong jangan sampai mengusir mereka dari rumahnya dan jangan pakai cara kekerasan," ucap Tegar dengan suara lantang.

Tak lama gerombolan preman pun pergi. Warga desa yang jumlahnya tidak banyak segera berduyun-duyun menuju rumah Pak Herman dan istri. Mereka memuji keberanian Tegar dalam mengusir para preman dan meminta Tegar untuk melindungi mereka jika ada kejadian seperti itu lagi.

Malam harinya ketika Tegar berkumpul bersama bapak ibunya, dia di tegur oleh bapaknya. "Nak, kejadian seperti tadi siang memang selayaknya kamu lakukan tapi bapak ibu minta kamu jangan sampai mencelakakan dirimu sendiri ya, " ujar sang bapak dengan nada pelan. 

Beberapa bulan setelah perlawanan yang dilakukan Tegar kepada para preman bayaran Pak Kusman, tidak ada lagi keberingasan para preman menyatroni rumah-rumah penduduk. Namun warga desa dengan sekuat tenaga membayar hutang mereka kepada Pak Kusman. Dengan diantar oleh Tegar ke rumah Pak Kusman untuk membayar hutang, warga desa merasa aman.

Sejak saat itu keberadaan Tegar sangat dibutuhkan oleh warga desa. Dan Tegar mulai mengajarkan ilmu bela diri otodidaknya kepada anak-anak muda di desanya.

Pesan moral dari cerita di atas adalah, pertama bahwa kita tidak di perbolehkan berdoa dengan doa-doa yang buruk seperti yang pernah di lakukan oleh bapak dari Tegar. Karena di kemudia hari ternyata Tuhan mengabulkan doa dari bapak Tegar dengan mengaruniakan anak yang tidak sempurna fisiknya. Yang kedua, sebagai sesama manusia yang punya kedudukan sama di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita tidak boleh memandang rendah  serta mencela orang lain yang memiliki fisik tak sempurna. Boleh jadi di balik fisik yang tak sempurna orang itu dianugerahi kemampuan lain yang tidak kita miliki.


NB : Cerita di atas merupakan fiksi, bila ada kesamaan dalam nama dan setting lokasi hal itu karena kebetulan semata.

Credot foto : bukalapak.com