Perpisahan Juga Sebuah Harapan Yang Terpendam



Tidak semua harapan itu harapan baik. Ada juga harapan yang sebenarnya tidak diinginkan namun karena sesuatu dan lain hal harus terjadi.

Ini terjadi pada seorang therapis di salah satu tempat reflexi dimana aku menjadi pelanggan. Sebut saja namanya Wati. Wati telah menikah selama 5 tahun dan memiliki anak semata wayang. Sayangnya pernikahan Wati dan suami hanya bertahan sampai 5 tahun.

Suami yang Wati kenal selama ini tiba-tiba berubah sifat dan sikapnya di tahun keempat pernikahan mereka. Suami yang dulu lembut, empat tahun kemudian menjadi sosok yang temperamental. Wati pun hanya mampu bertahan selama kurang lebih 6 bulan pernikahan lalu mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Wati bertahan karena faktor anak. Dia tidak ingin anaknya menjadi broken home karena perceraian kedua orang tuanya.

Tapi Wati hanya manusia biasa yang juga punya rasa lelah dan sakit. Dia tidak tahan setiap kali suaminya melakukan kekerasan terhadapnya. 
Setelah mendapat keputusan cerai dari Pengadilan Agama, Wati akhirnya bisa bernafas lega. Karena harapannya selama ini untuk dapat lepas dari kekerasan yang dilakukan suaminya sudah terwujud.

Dari cerita Wati dapat terlihat bahwa harapan bercerai sebenarnya bukanlah harapan yang baik. Tapi untuk apa ada pernikahan bila salah satu pihak tersakiti.
Kebahagiaan tidak dapat terwujud bila ada kekerasan di dalam rumah tangga.

Aku pernah bertemu Wati pada saat ingin pijat reflexi. Wati dengan status barunya yaitu janda dengan seorang anak. Wati tidak memiliki keinginan untuk berumah tangga kembali karena trauma dengan kekerasan mantan suaminya. Tapi Wati juga sangat bahagia dengan perceraiannya dimana dia bebas dari belenggu mantan suami.

Akhir kata, harapan tidaklah selalu berakhir dengan kebahagiaan. Namun jika harapan dapat menyebabkan lepasnya belenggu penderitaan, maka itulah harapan baik.


Credit foto : google

Post a Comment

0 Comments