Seringkali kemalasan mendera kita padahal kita sedang berada di usia produktif. Sayang sekali apabila kita harus bermalas-malasan apalagi kita sudah diberi rezeki berupa pekerjaan oleh Yang Maha Kuasa. Harapan mendapat keberhasilan pun akan pupus manakala kemalasan menghinggapi diri kita.

Alkisah sebut saja seorang laki-laki yang bernama Tito dimana dia bekerja sebagai office boy di suatu perusahaan swasta. Sudah 3 tahun Tito bekerja di perusahaan tersebut dengan gaji yang cukup untuk makan sehari-hari selama sebulan. Namun, andai saja Tito bersyukur dan tidak bermalas-malasan, mungkin kesempatan dia untuk dapat diangkat menjadi team leader office boy dapat terwujud.

Lalu di beberapa tahun berikutnya masuklah Fandi, dia baru satu tahun bergabung di perusahaan tempat Tito bekerja. Posisinya pun sama dengan Tito yaitu sebagai office boy. Tugas keduanya sama, tidak ada beda. Menyiapkan minuman pagi untuk para karyawan baik itu di tingkat manager maupun staff, mengirim dokumen ke ekspedisi, dan seabrek tugas office boy lainnya. Terkadang, para staff meminta kepada Tito maupun Fandi untuk membelikan makanan, tentu mereka berdua akan mendapat tips.

Dua individu ini memiliki karakter yang berbeda. Tito dengan rasa malas dan tak bersyukur, sedang Fandi sosok yang "nrimo" dan hanya berharap dapat terus diperpanjang kontrak kerjanya. Maklum, Fandi hanya lulusan SD dan sukar bagi dia untuk mencari kerja.

Rutinitas mereka lalui. Fandi yang bersyukur telah mendapat pekerjaan merasa sangat ringan dalam melangkahkan kaki setiap hari ke kantor. Sedangkan Tito yang selalu merasa kurang dengan gaji yang didapatnya setiap bulan menjadi sering terlambat ke kantor atau bahkan Tito sering pergi meninggalkan kantor tanpa ijin.

Suatu ketika, Tito lalai dalam menjalankan tugas. Dokumen yang sejatinya harus dikirim ternyata sudah satu minggu tidak dikirim Tito. Padahal isi dari dokumen itu adalah tagihan kepada pelanggan sebesar ratusan juta rupiah. Dan perusahaan pun sempat tidak punya dana untuk membayar operasional kantor.


Atas kelalaiannya, Tito diskors dari kantornya selama satu bulan. Gajinya pun hanya diterima separuh dari gaji bulanannya. Karena kasus yang dialami perusahaan akibat ulah Tito, akhirnya manajemen kantor berinisiatif membuat jabatan baru yaitu team leader office boy yang sebelumnya jabatan itu tidak ada dikarenakan perusahaan masih dalam skala menengah.


Manajemen pun melirik Fandi dan mempercayakan jabatan team leader kepada Fandi. Jabatan yang tidak pernah dibayangkan oleh Fandi sebelumnya. Tentu saja jabatan baru itu akan mendapat rewards berupa tambahan penghasilan.

Dari perjalanan hidup Tito dan Fandi dapat kita petik suatu hikmah bahwa rasa syukur sangat diperlukan dalam menjalani semua aktivitas kehidupan, termasuk bekerja. Harapan sederhana yang dimiliki oleh seorang Fandi pun justru mengangkat derajatnya.

Sumber foto : Google