Bersyukur

Post a Comment




Ehm... hari ini makan siang apa yaaa...

Kemarin udah makan penyetan, ah hari ini ganti donk makan siang di resto gepreknya artis. Mumpung ada promo pake dompet digital.



Pada saat kita merencanakan makan apa dan makan dimana, pernahkah terbayang ada sebagian orang yang tidak bisa melakukan hal seperti yang kita lakukan yaitu dengan leluasa memilih mau makan apa besok.



Sebagian orang yang karena keterbatasan ekonomi harus menahan keinginan untuk dapat makan enak sementara kita dengan bebas masuk ke restoran cepat saji. Jika tak ada uang di kartu ATM, bagi yang punya kartu kredit akan dengan mudahnya menggesek kartu mereka agar dapat makan enak di salah satu restoran.

Cerita ini berawal dari kegemaran aku dan suami berpetualang mencari kuliner yang enak tapi murah meriah (kira-kira ada ga ya yang macam begini) karena biasanya yang enak pasti mahal harganya.

Dalam sebulan pasti kami bisa mengunjungi tempat kuliner minimal satu tempat. Jika punya rejeki lebih maka kami bisa mengunjungi lebih dari satu tempat kuliner. Biasanya yang kami tuju adalah tempat kuliner yang telah direview olah para selegram yang followernya lumayan banyak.

Biasanya aku dan suami punya budget tersendiri dalam berwisata kuliner. Pada bulan ramadhan, kami menyisihkan uang untuk mencoba menu buka puasa all you can eat di hotel, entah itu bintang 2 sampai bintang 3. Sejauh ini kami belum punya rasa percaya diri untuk berbuka puasa di hotel berbintang 5.

Pada suatu ketika.. saat sedang mencoba kuliner burger di salah satu resto franchise khusus burger, aku mendapati beberapa driver ojek online sedang menunggu pesanan makanan untuk customer mereka. Para abang ojek online itu sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang menunggu pesanan sambil mengobrol dengan rekan sesama driver, ada yang sibuk memainkan gawai dan ada pula yang melamun. 

Yang membuatku trenyuh adalah ketika aku melihat di sudut rumah makan itu nampak abang ojek online sedang minum dengan nikmat. Dia menyeruput es teh yang disediakan secara gratis oleh pihak rumah makan. Dan si Bapak itu tidak menggunakan gelas untuk mengambil minum karena memang tidak disediakan. Kalian tebak Bapak ojol itu minum menggunakan wadah apa ? Ya benar, si bapak menggunakan wadah saos sambal yang terbuat dari plastik bening nan kecil untuk mengambil minuman sekadar melepas dahaganya.

Duh, batinku bergejolak. Namun aku pun tak beranjak untuk membelikan minum kepada bapak ojol itu. Aku hanya memandanginya dari jauh dan memberitahu suamiku akan pemandangan itu. Bodohnya kami tidak ada inisiatiif sedikitpun untuk menolong bapak ojol itu.

Setelah selesai makan, aku dan suami beranjak pergi dari rumah makan itu. DI perjalanan menggunakan motor, aku berkata pada suami agar mulai sekarang jangan terlalu sering makan di luar karena aku tak tega jika harus bertemu dengan para driver ojek online dan melihat mereka rela mengantri memesan makanan untuk pelanggannya sedangkan mereka sendiri harus mengesampingkan dahaga dan laparnya.

Dari pengalaman ini aku banyak belajar untuk memahami bagaimana jika kita berada di posisi mereka pada ojek online. Aku menyesal tidak bisa menolong mereka satu per satu tapi setidaknya dengan misalnya memberi tips pada saat aku menggunakan jasa mereka akan membantu meringankan beban mereka walau tidak besar tips yang aku beri. Dan berusaha tidak seperti pada sebagian oknum pelanggan yang dengan seenak hati mereka membatalkan pesanan makanan di ojek online.

Dari driver ojol ini aku banyak belajar untuk lebih bersyukur. Bahwa kehidupanku lebih baik dari mereka maka oleh karena itu aku harus lebih sering berderma sebagai wujud dari rasa syukurku. 



maria8181
Selamat datang di blog pribadi saya. Saya ingin berbagi cerita di blog pribadi saya kepada teman-teman netizen yang budiman. Silahkan hubungi saya via email mariatanjung81@gmail.com untuk kerjasama penulisan.

Post a Comment

Follow by Email