Sabar Akan Ujian Allah

Puasa di saat pandemi covid-19 bagiku sih sama saja dengan puasa-puasa sebelumnya. Tidak ada yang berbeda. Puasa tetap menahan lapar dan haus dari adzan subuh sampai adzan maghrib berkumandang. Bagi yang sudah memiliki menikah, di saat berpuasa juga diharamkan melakukan hubungan suami istri. Jadi pada prinsipnya puasa dimana saja dan dalam kondisi apapun tetap sama kok. Kondisi yang aku maksud disini adalah misalnya pada saat perang atau bahkan di saat terjadinya pandemi corona saat ini. Bahkan kalau kita mau tengok sejenak bagaimana saudara-saudara yang berada di Palestina harus berpuasa di tengah-tengah dentuman bom yang bisa saja membunuh mereka seketika, toh mereka tetap kuat menjalani ibadah yang dijalani setahun sekali tersebut.

Namun karena tahun ini hampir seluruh penjuru dunia terserang wabah covid-19, maka tentu ada yang berbeda. Misalnya aku yang biasa ngabuburit di luar rumah beberapa kali dalam seminggu menjelang waktu berbuka puasa, tahun ini sama sekali tidak ada ritual seperti itu lagi. Tahun lalu aku dan suami kadang mencoba berbuka puasa di beberapa tempat salah satunya Masjid Al Akbar Surabaya atau mencoba menu all you can eat yang ditawarkan di salah satu hotel. Biasanya sih kami mencari hotel yang biasa saja dan harga yang relatif murah agar tidak canggung jika memasukinya. Hihihi. 


Orang Membeli takjil di Pasar Ramadan


Di dekat rumahku, ada masjid yang biasanya selama bulan Ramadan mempersilahkan pedagang untuk membuka lapak di sekitar halamannya. Namanya Masjid Al Wahyu yang terletak di komplek Rungkut Menanggal Harapan, Surabaya. Namun puasa tahun ini tak satupun pedagang yang membuka lapaknya di halaman Masjid tersebut. Hal ini merupakan dampak dari adanya himbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing. Sebab otomatis jika pedagang banyak yang berjualan takjil maka akan menarik minat pengunjung untuk membeli dagangan mereka. Jika sampai terjadi kerumunan maka semakin besar kemungkinan setiap individu terpapar virus corona yang sampai saat ini kita tak pernah tahu wujudnya. 

Daripada saling mencelakai satu sama lain, lebih baik kita menjaga agar penyebaran virus tidak semakin merajalela, salah satunya dengan physical distancing tersebut.

Ramadan tahun lalu mungkin masih terdengar keramaian di masjid-masjid dekat komplek perumahan kita dengan anak-anak kecil yang saling berlarian kesana kemarin gembira menyambut bulan puasa sembari menanti waktu shalat tarawih dilaksanakan. Namun tahun ini mungkin Ramadan paling sepi yang pernah kita jumpai. Memang tidak semua masjid melarang jamaahnya melakukan ibadah shalat Tarawih namun jarak tetap harus dijaga serta diwajibkan menggunakan masker. Sehingga jika dibanding tahun sebelumnya, suasana masjid nampak sepi oleh jamaah.

Dahulu mungkin kita yang jarang keluar rumah dan bersosialisasi selama ini menjadi bisa mengenal tetangga karena tidak sengaja bertemu saat melaksanakan ibadah sholat tarawih. Di sela-sela mendengarkan ceramah setelah shalat Tarawih biasanya tidak sengaja berbincang dengan jamaah di sebelah kanan atau kiri sehingga akhirnya saling mengenal. Di situlah ukhuwah akan terjalin. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya, bahkan yang biasanya kami para warga di komplek diberi tugas menyumbang takjil untuk dibawa ke masjid sekarang untuk sementara tidak ada lagi kegiatan tersebut.

Bagi beberapa individu biasanya mengadakan acara bukber atau buka bersama baik dengan teman sekolah, teman kerja maupun komunitas lainnya, sekarang di masa pandemi ini harus menahan keinginan untuk berkumpul bersama teman-teman. 

Aku dan suami pada Ramadan tahun ini pun benar-benar tidak akan pergi keluar rumah kecuali untuk hal yang sangat penting seperti bekerja, mengunjungi mertua dan membeli kebutuhan pokok. Selebihnya kami berbuka puasa di rumah saja dan berusaha mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan di tengah pandemi ini.