Pemimpin Yang Pasif


Pada tulisan kali ini aku ingin sedikit membahas mengenai tipe pemimpin. Bukan gaya kepemimpinan lho ya. Hal ini hanya di dasarkan pada  pengalaman yang aku dapat selama hampir 39 tahun hidup di dunia.

Kalau gaya.kepemimpinan kan ada otoriter, demokratis dan lain sebagainya. Kali ini aku hanya ingin sharing saja dua tipe pemimpin yang aku pernah temui. Pertama tipe pemimpin yang perfeksionis. Tipe ini selalu mengandalkan kesempurnaan dalam bekerja bahkan kalau bisa tidak ada satupun kesalahan yang dibuat. Padahal ga bisa gitu juga donk ya. Manusia ini tempatnya salah dan khilaf. Terlalu banyak melakukan kesalahan juga tidak baik karena kita sebagai karyawan akan dicap tidak bisa bekerja oleh pimpinan dan itu bisa mempengaruhi penilaian prestasi kita.

Sebenarnya pemimpin perfeksionis itu baik bahkan baik sekali dalam menghasilkan suatu pekerjaan. Jika usaha di bidang jasa maka tipe pemimpin perfeksionis akan sangat berhasil dalam menjual jasanya. Pasti perusahaannya akan sering menerima repeat order.

Tapi menjadi seorang perfeksionis terkadang ada minusnya juga yaitu mereka kurang bisa bekerja sama dengan team karena selalu menganggap kerja orang lain tidak bisa sebaik dirinya. Aku pribadi kurang bisa bekerja sama dengan partner yang perfectionist karena bisa-bisa apa yang sudah aku kerjakan tidak digunakan sama sekali. Hancur hati adek, bang... hehehe.

Sedangkan tipe pemimpin yang kedua adalah pemimpin yang pasif. Jujur aku baru temui pemimpin pasif beberapa tahun terakhkir ini. Gimana ya, susah mendeskripsikan tipe pemimpin pasif ini. Pemimpin pasif cenderung tidak mengikuti perkembangan  yang terjadi di kantornya. Dan yang lebih memprihatinkan, pemimpin pasif seperti lepas tangan terhadap segala yang terjadi di kantor. Akhirnya kami sebagai anak buah bingung harus bagaimana dalam mengambil keputusan. 

Pemimpin pasif kalau menurutku seperti makan gaji buta. Hanya masuk kantor untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang karyawan. Dampak negatifnya pasti ada yaitu para anak buah akan banyak bertanya dan membicarakan di belakang, kenapa sampai Ibu atau Bapak tersebut hampir tidak pernah bertanggung jawab atas segala pekerjaannya. Anak buah juga akhirnya hilang respek kepada pemimpin seperti itu. 

Terkadang kita tidak tahu apa yang ada di dalam hati seseorang, begitu halnya dengan pemimpin pasif tersebut. Apakah dia pernah dikecewakan oleh jajaran direksi atau hal lain yang kita tidak pernah ketahui. Sejujurnya jika aku bertemu dengan pemimpin yang pasif, aku ingin sekali sharing dengannya dan bertanya  mengapa sampai menjadi pasif seolah tidak mau tahu tentang segala permasalahan yang terjadi di kantor.

Mungkin jika ada tipe pemimpin ini di kantor kalian sebaiknya dilibatkan dalam setiap pekerjaan agar beliau tahu bahwa anak buah sebenarnya juga menunggu instruksi darinya.

Credit Foto : Kompasiana.com

Post a Comment

0 Comments