Bergaul Di Antara Para Lelaki




Tidak ada yang salah sebenarnya kita sebagai perempuan lebih banyak bergaul dengan laki-laki. Apalagi jika urusannya ada sangkut paut dengan pekerjaan. Malah itu menjadi keharusan, kalau tidak mau bergaul dengan teman kerja yang mayoritas lelaki kita bisa dikenai sanksi oleh perusahaan tempat kita bekerja.

Aku ambil contoh diriku sendiri dimana di kantor hanya akulah yang berjenis kelamin perempuan sendiri. Dulu pernah beberapa tahun aku ditemani oleh rekan kerja perempuan, namun beliau sudah pada resign dan menikah. Jadinya aku sebagai "sesepuh" di kantor yang bertahan.

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku bekerja dengan kondisi rekan kerja mayoritas laki-laki. Sebelumnya pun aku pernah mengalami kondisi serupa. Walau perempuan sendiri di kantor tapi bisa dibilang aku yang paling berumur atau paling tua di antara teman kerjaku yang lain. Hal inilah yang menyebabkan teman kerja laki-laki menjadi sungkan dan respek kepadaku.

Perlu diingat, kita sebagai perempuan harus bisa menempatkan diri dimana saja kita berada. Kita tidak perlu bergaul terlalu mendalam hanya ingin dinilai tidak sombong oleh rekan kerja lainnya. Aku sangat memiliki prinsip dalam hal pergaulan. Bersyukurnya aku, teman-teman menghargai diriku sebagai seorang perempuan.

Pesanku lagi kepada kalian para perempuan yang bekerja di bidang yang lebih banyak kaum adamnya, bekerjalah secara profesional dan jangan takut jika kalian benar sesuai aturan. Bisa saja karena merasa perempuan yang dinggap lemah lalu dimanfaatkan oleh rekan kerja dalam pemberian beban kerja.

Aku ingin sedikit bercerita bahwa dulu semasa SMA, aku pernah menjadi bendahara kelas. Aku bertugas menerima pembayaran buku yang dijual sekolah kepara para siswa. Bagiku tak sulit menagih pembayaran dari teman-teman sekelas. Namun tibalah aku harus menagih teman lelaki sebut saja namanya Olaf. Aku tak dekat dengan Olaf dan dia termasuk siswa yang bandel di sekolah. Ketika aku tagih dia menjawab dengan kasar bahwa dia sudah membayar. Aku yang masih belum seberani sekarang jika berhadapan dengan orang lain, akhirnya takut dan mengadukan kelakuan Olaf pada wali kelasku. Beberapa hari kemudian Olaf datang sambil melempar uang buku ke arahku. Sungguh perbuatan yang tidak sopan walau dengan teman sekelas sendiri.

Peristiwa itu akan aku ingat sampai aku berusia hampir menginjak kepala empat dan aku jadikan pembelajaran  berharga dalam hidup. Bahwa begitu banyak karakter manusia di muka bumi ini dan kita tidak bisa menyuruh manusia untuk suka kepada kita. Pun kita sudah merasa berbuat baik kepada mereka.

Di kantorku yang sekarang, aku dikenal tegas dan cenderung cerewet. Namun teman-teman mengakui jika aku sedang cuti maka suasana kantor menjadi sepi. Aku mampu bersenda gurau dengan teman sekantor tapi aku akan tahu batasan mana hal yang bisa dijadikan bahan candaan dan mana yanh tidak.

Untuk kalian para perempuan pejuang masa depan, tetap semangat ya walau bekerja di antara para lelaki. 


Credit Foto : dutaislam.com

Post a Comment

0 Comments