Merangkai 500 Kata Setiap Hari

Credit foto : tempo-institute.org


Akhirnya sampai juga aku dan beberapa teman yang lain di pekan keempat tugas non fiksi. Dan ini menandakan kelas akan berakhir. Perlu diketahui bahwa setelah aku dan teman-teman angkatan ke-7 komunitas One Day One Post lulus di level 1, maka ada pengelompokan grup lagi sesuai minat yaitu kelas fiksi dan non fiksi. Tentunya aku masuk kelas non fiksi. Bukan berarti aku tidak suka fiksi, hanya saja aku masih belum memiliki keberanian mempelajari dan mendalami kelas fiksi lebih lanjut. Aku juga suka fiksi, terbukti beberapa tugas menulis fiksi di level 1 kelas ODOP dimulai aku berhasil melewatinya. Walau mungkin cerita fiksiku tidak sebagus teman-teman lainnya.

Ternyata pengelompokkan kelas ini bukan berarti tantangan lenyap begitu saja. Ada tantangan lain yang tidak kalah beratnya dibanding ketika berada di level satu. Kami diwajibkan menulis minimal 500 kata. Wow, seketika otak dalam kepalaku bergejolak. Bagaimana nih, menulis 500 kata dalam kurun waktu 24 jam, sedangkan biasanya aku menulis untuk ikut project antologi saja batas waktunya minimal satu pekan dengan ketentuan kata antara 700 sampai 1000 kata.

Dengan tekad sekeras baja, akupun berusaha menulis setiap hari minimal 500 kata. Kadang bisa sampai 600 kata jika ide sedang bisa diajak bersahabat. Pernah satu atau dua kali aku absen dan harus dibayar di hari berikutnya. Di kelas non fiksi ini aku dilatih untuk bisa menulis setiap hari dengan jumlah kata yang banyak menurutku. Bisa kalian bayangkan 500 kata untuk setoran satu hari, artinya kita harus memiliki banyak ide menulis sesuatu yang berhubungan dengan non fiksi.

Untuk mempersempit tema tulisan kita, dalam kelas non fiksi para anggota diminta membuat keputusan niche blog apa yang sesuai dengan keinginan kita. Aku akhirnya mengerti untuk apa PJ membuat tugas untuk kami yang berkaitan dengan niche blog. Manfaatnya aku rasakan, besoknya setelah memutuskan niche blog aku fokus menulis review tempat-tempat makan yang ada di Surabaya.

Banyak kesan yang kudapat di kelas non fiksi komunitas ODOP, diantaranya aku benar-benar digembleng untuk menulis dengan konsisten dan dilatih untuk tidak malas menulis. Selain itu aku "dipaksa" untuk menemukan ide bahkan ketika sedang mager alias malas gerak. Badan boleh mager tapi ide harus tetap aku cari untuk bisa memposting tulisan di blog.

Akhir kata, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada komunitas ODOP berserta seluruh jajaran pengurus yang telah memberikanku kesempatan untuk bergabung di grup ini. Semoga komunitas ODOP bisa menjadi komunitas yang menginspirasi pegiat literasi lainnya.

Post a Comment

0 Comments