Pada beberapa orang setuju dengan pernyataan ini : berbohong demi kebaikan tak masalah. Atau ada yang menyebut dengan white lie yang dalam bahasa Indonesia disebut kebohongan putih. Berarti ada kebohongan hitam juga lho. Kalau kebohongan hitam dilakukan pas malam hari kali ya, hehehe.

Pada sebagian orang mungkin merasa sungkan atau tidak enak jika harus menolak ajakan atau keinginan orang lain sehingga jurus kebohongan putih dilancarkan. Dengan harapan orang yang dibohongi dengan kebohongan putih akan mengurungkan niat mengajaknya. Tapi yang namanya berbohong tetap saja berbohong dan tidak mengajarkan perilaku yang baik. Kalau masalah dosa saya tidak berani mengatakan karena itu hubungannya dengan Yang Maha Kuasa.

Beberapa contoh bohong putih misalnya seorang pedagang tidak mungkin menyebut harga kulakan atau harga pokok pada pembelinya. Sehingga si pedagang akan menyebut harga "palsu" agar di pembeli tidak terlalu menawar diluar batas kewajaran. Jika terjadi hal seperti ini, baiknya si pedagang jangan berbohong mengenai nominal harga kulak namun dengan memperhalus bahasa marketingnya kepada pembeli. "Maaf Ibu, untung saya sudah nipis banget nih. Kalau ibu beli dengan harga sepuluh ribu bisa-bisa saya engga dapat untung atuh". Dengan kata "nipis" menurut saya adalah cara ampuh untuk menolak harga ditawar lebih rendah lagi.

Contoh lain, ada marketing yang sudah tidak ingin menangani seorang customer karena selalu minta harga di bawah pasaran. Setiap kali customer itu telepon, marketing selalu minta temannya untuk berbohong. Sebenarnya bisa dilakukan dengan cara lain misalnya marketing secara gentle menghadapi customer langsung dan mengatakan secara terus terang bahwa si customer akan dilayani oleh marketing yang lain dikarenakan yang bersangkutan sudah overload dalam pekerjaan.

Banyak cara untuk mengeles atau menghindar dari seseorang tanpa harus berbohong. Kita bisa memperhalus bahasa penolakan jika sudah tidak ingin berhubungan dengan seseorang tanpa harus berbohong.

Sumber foto : google