Aku dan gadget seperti dua orang kembar siam yang tak terpisahkan. Bedanya, aku manusia sementara gedgetku hanya merupakan benda mati yang keberadaannya (seharusnya) dapat aku kontrol. Namun apa yang terjadi ? Hidupku ternyata dikendalikan oleh gadget. Jadi aku kadang berpikir sebenarnya yang benda mati itu siapa ? Atau jangan-jangan akulah si benda mati itu.

Tidak.. aku tidak mau dikendalikan oleh gadget. Akulah yang memegang kendali atas gadgetku. Mungkin yang paling senang atas kecanduanku pada gagdet adalah syaithan. Bagaimana tidak, karena gadget aku melaksanakan sholat tidak tepat waktu. Karena gadget, jam tidurku menjadi lebih malam sehingga aku mudah lelah. Dan karena gadget aku menjadi anti sosial.

Aku merenung.. mencoba menelaah kenapa aku sampai dikendalikan oleh benda mati. Apa tidak ada hal lain yang bisa mengendalikanku. Tetiba aku sadar, aku masih punya otak. Seharusnya otak bisa mengendalikanku. Otak juga benda mati, kenapa mau dikendalikan oleh benda mati lagi ? Pikirku kala itu.

Bukan... bukan seperti itu. Otak memang benda mati tapi dia ada di dalam kepalaku, menjadi satu kesatuan dengan ruh yang Tuhan berikan padaku. Sehingga otak bisa mengendalikan apa yang akan kulakukan baik itu hal positif maupun negatif.

Akhirnya aku bisa tersenyum kembali. Mulai detik ini aku akan bekerja sama dengan otak untuk melakukan segala aktivitas yang berguna. Akan kuperintah otakku untuk mengontrol setiap apa yang akan kulakukan dan itu harus sesuatu hal yang positif.

Credit Foto : fimela.com