Berpikirlah sebelum bertindak




Di sebuah negeri antah berantah hiduplah seorang laki-laki berusia 31 tahun. Tulisan ini bercerita tentang perjalanan hidup laki-laki tersebut dikala usianya 30 tahun. Artinya sudah 1 tahun berjalan. Dengan latar belakang pendidikan SMU dan tingkat kecerdasan yang biasa-biasa saja, laki-laki tersebut bekerja disebuah kantor yang juga biasa-biasa saja. Pekerjaan lelaki itu sebenarnya sudah lumayan menjanjikan jika hanya sekedar bisa mempertahankan hidup mulai dari makan, minum, ngopi, ngerokok, hingga modifikasi motor sampai kinclong. #eh kok saya jadi julid, 

Sudah 8 tahun laki-laki tersebut bekerja di kantor itu. Ibarat kata semua bisa dibeli, asal ada duitnya lho ya. Tetapi sayang, laki-laki itu tidak pernah terpikir mau membeli rasa syukur. Konon katanya di saat penghasilannya sedang tinggi-tingginya karena dapat job lebih nih, laki-laki tersebut menjadi sedikit sombong. Pada saat diberi job dengan imbalan kecil, laki-laki tersebut bermalas-malasan. Bahkan setelah selesai melakukan pekerjaan, jam 1 siang, dia sudah naik ke kamarnya untuk bobo ciang.  Jadi kebetulan di kantor lelaki itu disediakan kamar untuk para bujang.

Seiring berjalannya waktu, lelaki tersebut berencana mengundurkan diri dikarenakan “katanya” mau pulang kampung. Diajukanlah surat pengunduran diri.

Satu tahun berlalu ternyata yang “katanya” mau pulang kampung hanyalah wacana usang alias ndak kelakon. Untung cuma wacana pulang kampung, gimana kalo wacana koar-koar mau naik haji ternyata zonk, heuheu... #eh, saya kok jadi julid permanen sih .

Okelah, kembali ke laptop. Singkat cerita, menganggurlah si lelaki itu tapi tidak lama, karena dia sekarang katanya sudah bekerja di usaha milik teman dari temannya (nah lo... Jadi mbulet aja lingkaran kehidupan ini). Lalu timbul keinginan dalam benak lelaki itu untuk berhenti bekerja di kantornya sekarang dan kembali ke kantor lama dimana dia tidak pernah mensyukuri nikmat rezeki di kantor lama. Kenapa tidak disyukuri? Karena pada saat diberi pekerjaan dengan bayaran kecil maka tidak dikerjakan dengan sebaik mungkin. Manusia bisa berubah, benar tidak ? Tentu benar adanya. Tapi pada saat seseorang masuk ke zona yang sudah dia ketahui bahwa itu zona nyaman, maka seketika itu jargon “manusia bisa berubah” akan lenyap seketika.

Usut punya usut, lelaki itu tidak nyaman kerja di kantor barunya, yang artinya dia merasa kantor lama lebih nyaman (untuk tidur, main game, bolos kerja, heuheu...). Dan menurut selentingan kabar burung yang beredar, ternyata salah satu faktor pengunduran diri laki-laki itu setahun yang lalu karena pengaruh temannya yang mengatakan kerja di luar dengan posisi sama dengan kantor lamanya malah mendapat salary yang woooww emejing...

Menurut hemat beberapa netijen, biarlah laki-laki itu bekerja di luar, tidak di kantor lamanya, agar dia dapat belajar dan memahami bahwa kehidupan di luar jauh lebih sukar dan menantang. Ibarat laki-laki beristri 3 , kalau sakit pasti kembalinya ke pangkuan istri pertama. #eh, julid lagi deh saya.

Di akhir cerita ini saya tidak akan memberi give away kepada para pembaca yang budiman dengan pertanyaan “apakah lelaki tersebut akan tetap ngotot memelas agar dapat kembali bekerja dikantor lama”. Disini hanya menyelipkan pesan agar jangan mudah terpengaruh dengan omongan teman, jangan silau dengan mewahnya dunia luar yg belum pernah kamu jamah sementara kamu orangnya penakut dan jangan menjadi sombong pada saat keberlimpahan harta sudah ditangan. Oh! Oke, kita lihat nanti 

Sumber Foto : Google

Post a Comment

0 Comments