Halaman

Sunday, December 15, 2019

Merangkai 500 Kata Setiap Hari


Akhirnya sampai juga aku dan beberapa teman yang lain di pekan keempat tugas non fiksi. Dan ini menandakan kelas akan berakhir. Perlu diketahui bahwa setelah aku dan teman-teman angkatan ke-7 komunitas One Day One Post lulus di level 1, maka ada pengelompokan grup lagi sesuai minat yaitu kelas fiksi dan non fiksi. Tentunya aku masuk kelaa non fiksi. Bukan berarti aku tidak suka fiksi, hanya saja aku masih belum memiliki keberanian mempelajari dan mendalami kelas fiksi lebih lanjut. Aku juga suka fiksi, terbukti beberapa tugas menulis fiksi di level 1 kelas ODOP dimulai aku berhasil melewatinya. Walau mungkin cerita fiksiku tidak sebagus teman-teman lainnya.

Ternyata pengelompokkan kelas ini bukan berarti tantangan lenyap begitu saja. Ada tantangan lain yang tidak kalah beratnya dibanding ketika berada di level satu. Kami diwajibkan menulis minimal 500 kata. Wow, seketika otak dalam kepalaku bergejolak. Bagaimana nih, menulis 500 kata dalam kurun waktu 24 jam, sedangkan biasanya aku menulis untuk ikut project antologi saja batas waktunya minimal satu pekan dengan ketentuan kata antara 700 sampai 1000 kata.

Dengan tekad sekeras baja, akupun berusaha menulis setiap hari minimal 500 kata. Kadang bisa sampai 600 kata jika ide sedang bisa diajak bersahabat. Pernah satu atau dua kali aku absen dan harus dibayar di hari berikutnya. Di kelas non fiksi ini aku dilatih untuk bisa menulis setiap hari dengan jumlah kata yang banyak menurutku. Bisa kalian bayangkan 500 kata untuk setoran satu hari, artinya kita harus memiliki banyak ide menulis sesuatu yang berhubungan dengan non fiksi.

Untuk mempersempit tema tulisan kita, dalam kelas non fiksi para anggota diminta membuat keputusan niche blog apa yang sesuai dengan keinginan kita. Aku akhirnya mengerti untuk apa PJ membuat tugas untuk kami yang berkaitan dengan niche blog. Manfaatnya aku rasakan, besoknya setelah memutuskan niche blog aku fokus menulis review tempat-tempat makan yang ada di Surabaya.

Banyak kesan yang kudapat di kelas non fiksi komunitas ODOP, diantaranya aku benar-benar digembleng untuk menulis dengan konsisten dan dilatih untuk tidak malas menulis. Selain itu aku "dipaksa" untuk menemukan ide bahkan ketika sedang mager alias malas gerak. Badan boleh mager tapi ide harus tetap aku cari untuk bisa memposting tulisan di blog.

Akhir kata, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada komunitas ODOP berserta seluruh jajaran pengurus yang telah memberikanku kesempatan untuk bergabung di grup ini. Semoga komunitas ODOP bisa menjadi komunitas yang menginspirasi pegiat literasi lainnya.

Saturday, December 14, 2019

Bebek Semangat



Mendengar namanya mungkin beberapa orang akan penasaran, apa ya bebek semangat itu ? Apakah sejenis varietas bebek unggul dalam dunia peternakan atau apa yaaa... Daannn ternyata Bebek Semangat merupakan nama salah satu rumah makan yang aku temui di Surabaya. Lebih tepatnya berlokasi di Transmart Rungkut, Surabaya. Tempat makan ini yang aku lihat selalu ramai pengunjung utamanya pada jam makan seperti siang dan malam hari.

Aku sendiri belum tahu persis asal usul nama Bebek Semangat itu. Yang pasti menu hidangan utama adalah bebek. Tentu dengan nasi sebab jika hanya menggado bebek saja tentu kurang sedap tanpa ditemani nasi. Bagi pengunjung yang tidak suka bebek, bisa diganti dengan ayam yang penyajiannya tidak jauh berbeda dengan bebek.



Sebenarnya sudah kali kedua aku dan suami makan di Bebek Semangat, namun dulu kan aku belum mengenal dunia menulis sehingga beberapa tempat makan yang aku kunjungi tidak aku tuliskan sebagai sebuah review. Namun sekarang setiap hal yang aku alami, amati dan sedang dilaksanakan sebisa mungkin kutulis menjadi suatu cerita.

Bebek Semangat sebenarnya tidak ada beda dengan penyetan lain di Surabaya. Hanya saja tempatnya lebih eksklusif karena berada di dalam mall. Untuk harga pasti tidak semurah penyetan kaki lima karena harus menyesuaikan dengan biaya sewa di mall serta pajak restoran.



Yang unik dari Bebek Semangat adalah free refill minuman sehingga pengunjung bisa menambah sepuasnya jika masih haus akibat kepedesan makan bebek atau ayam disitu. Aku dan suami pada kali kedua kedatangan di Bebek Semangat memesan paketan nasi ayam dengan sambal matah. Ada remukan crispy bersama ayam yang disajikan, menambah keasyikan dalam menguyah nasi ayam dengan sambal matah itu.

Kalau tidak salah harga dua porsi nasi ayam itu enam puluh enam ribu sudah beserta ppn sepuluh persen. Sudah termasuk minum yang dapat kita isi ulang berkali-kali. Tapi hanya teh manis dan green tea saja yang dapat di refill lho ya. Selain itu, tidak dapat minum sepuasnya. Nanti bisa rugi Bebek Semangatnya, hehehe.

Untuk masalah kenyamanan, aku merasa nyaman sifatnya relatif jika rumah makan tersebut berada di dalam mall. Kenapa bisa begitu, karena pada jam-jam tertentu seperti makan siang maupun makan malam, suasan di rumah makan manapun hampir di setiap mall tidak akan terasa nyaman. Hal ini dikarenakan banyaknya pengunjung yang ingin mengisi perut mereka.



Di Bebek Semangat meja dan kursi ternuat dari kayu sehingga duduk tidak terasa empuk. Selain itu pula jarak antara kursi satu dengan lainnya cukup dekat sehingga kurang memberi privasi. Namun aku rasa itu adalah hal yang wajar karena tempat makan yang berada di mall biasanya begitu. Tapi jangan disamakan juga dengan kedai kopi Starbucks dan sebagainya dimana konsep kedai kopi tersebut hanya menyajikan minuman serta snack. Di kedai kopi justru dirancang senyaman mungkin agar pengunjungnya dapat berkumpul dan bahkan melakukan meeting kaitan pekerjaan di kedai tersebut. Jika di tempat makan seperti Bebek Semangat, pengunjung jarang ada yang berlama-lama bahkan sehabis menyantap makanan biasanya mereka langsung meninggalkan tempat tersebut.

Buat kalian yang penasaran ingin mencoba Bebek Semangat khususnya yang berada di kota Surabaya, bisa langsung datang ke Transmart Rungkut atau ke Jalan Kusuma Bangasa. Rumah makan Bebek Semangat tersebar juga di kota-kota lain seperti Sidoarjo, Jakarta, Bekasa dan Solo.

Mau makan siangmu lebih semangat ? Mampir dulu dan rasakan Bebek Semangat.

Friday, December 13, 2019

Nyobain Aa' Raffi Fried Chicken di Nginden Semolo



Bulan desember ini pengalaman kuliner akan aku buka dengan berkunjung ke Aa’ Raffi Fried Chicken yang beralamat di Jalan Nginden Semolo dekat dengan kampus Untag Surabaya. Banyak artis yang membuka bisnis kekinian, salah satunya Raffi Ahmad. Bersama istrinya Nagita Slavina, rupanya bisnis mereka tidak hanya merambah pada satu bidang saja namun ke beberapa jenis usaha yang berbeda. Sebut saja RA jeans yang menjual produk pakaian. Lalu keripik King Kong yang merupakan salah satu bisnis Raffi Ahmad menggandeng Alfamart sebagai tempat memasarkan produk tersebut.



Sekarang aku ingin mengulas mengenai Aa’ Raffi Fried Chicken dimana salah satu menunya ada mie ayam geprek yang merupakan makanan favoritku. Tempat yang luas serta halamannya cukup memuat sampai dua puluh unit sepeda motor untuk parkir bagiku merupakan point tersendiri. Hari Kamis kemarin aku lihat tidak banyak pengunjungnya, hanya ada sekitar enam orang dan itupun berpasang-pasangan. Tak ragu aku ajak suami untuk mencoba menu di Aa’ Raffi Fried Chicken. Mumpung tidak ramai, batinku ketika mau menghentikan langkah ke sana.



Kami datang disambut dengan pelayanan yang ramah. Konsepnya seperti restoran cepat saji, dimana kami memilih menu di meja kasir lalu langsung membayar sejumlah makanan yang dipesan. Aku melihat-lihat daftar menu dan tertuju pada mie ayam geprek mozarella seharga sembilan belas ribu rupiah. Tanpa ragu aku langsung memesannya satu porsi. Tidak lupa aku bilang ke mbak pramusaji bahwa aku memesan level satu untuk tingkat kepedasannya. Sementara suamiku memilih paket fried chicken dengan nasi dan es teh manis satu gelas. Mbak pramusaji mempersilahkan kami untuk duduk sembari menunggu pesanan dibuatkan dan mereka akan mengantarkan ke meja kami.


Kamipun menuju meja di dalam ruangan yang khusus ber-AC. Di Aa’ Raffi Fried Chicken disediakan dua ruangan yaitu indoor dan outdoor. Outdoor untuk pengunjung yang mungkin merokok setelah makan, sedangkan indoor disediakan bagi pengunjung yang suka kesejukan karena memang di dalam ruangan suhu Air Conditionernya dingin menurutku. Sekitar lima menit kemudian, datanglah pesanan kami. Suamiku sebelum makan mencuci tangan terlebih dulu karena dia makan menggunakan tangan sedangkan aku menggunakan sendok dan garpu dalam menyantap mie geprek.


Baiklah, kamipun memulai untuk makan pesanan kami masing-masing. Daaann ternyata, level satu mie geprek ayam mozzarella pedesnya minta ampun. Baru kali ini aku merasakan level 1 yang hot. Biasanya aku merasa pedas di level 2 tapi kali ini prediksiku salah. Aku maklum saja karena setiap rumah makan pasti punya cita rasa sendiri. Begitu pula dengan Aa’ Raffi Fried Chicken. Tapi walaupun pedas aku akui jika masakannya enak, ayamnya juga krenyes-krenyes dan ukurannya besar.


Kalau fried chicken yang dimakan suamiku ukurannya extra large menurutnya. Namun suamiku yang pecinta pedas merasa saus sambalnya kurang pedas. Sepertinya kami salah posisi, hehehe. Seharusnya suamiku yang makan mie geprek ayam mozarellaku begitupun aku sebaliknya makan nasi ayam fried chickennya. Namun lagi-lagi kami memiliki selera yang berbeda.

Setelah kurang lebih setengah jam kami menghabiskan makanan, kamipun segera beranjak pulang. Beberapa pengunjung mulai berdatangan ke Aa’ Raffi Fried Chicken. Suasana sudah mulai agak ramai disbanding sebelumnya aku dan suami tiba pertama kali.

Aku puas sudah mencoba mie ayam geprek di Aa’ Raffi Fried Chicken yang sudah lama aku incar karena penasaran dengan menu-menunya yang beberapa kali aku intip di Instagram. Walalu ada beberapa hal yang tidak seperti ekspektasiku namun secara keseluruhan tidak mengecewakan.


Yang penasaran dengan Aa’ Raffi Fried Chicken, mungkin bisa mampir di gerai yang ada di kota kalian.


Merangkai 500 Kata Setiap Hari

Akhirnya sampai juga aku dan beberapa teman yang lain di pekan keempat tugas non fiksi. Dan ini menandakan kelas akan berakhir. Perlu dike...